CIAMIS,Kondusif.com,- Gerobak cilok menjadi tumpuan hidup Tedi Suryadi alias Oding. Selama kurang lebih satu dekade, ia menjajakan cilok dari satu kawasan ke kawasan lain untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Oding ditemui saat berjualan pada Senin, 10 Agustus 2026.
Ia mengatakan usaha cilok bukan sekadar pekerjaan sambilan.
Bagi dia, dagangan berbahan tepung tapioka itu telah menjadi mata pencaharian utama.
“Kalau sehari-hari mah cilok,” kata Oding saat diwawancara.
Rutinitasnya dimulai sekitar pukul 09.00. Setelah itu, ia berkeliling menjajakan cilok hingga malam.
Jika dagangan masih memungkinkan, Oding bisa pulang sekitar pukul 20.00 atau 21.00.
Desa Nasol menjadi salah satu kawasan yang ia datangi untuk berjualan.
Menurut dia, usaha tersebut masih berjalan meski kondisi ekonomi masyarakat belakangan terasa tidak mudah.
“Alhamdulillah, jalan terus saja,” ujarnya.
Margin Rp300 per Biji
Oding menjelaskan, cilok yang ia jajakan merupakan barang dari bos.
Untuk cilok berukuran besar, ia memperoleh harga sekitar Rp700 per biji, kemudian menjualnya kembali kepada pembeli dengan harga Rp1.000.
Dengan demikian, Oding memperoleh selisih sekitar Rp300 dari setiap biji cilok yang terjual.
Jika dalam sehari ia mampu menjual 500 biji, misalnya, margin kotor yang diperoleh mencapai Rp150 ribu.
Namun, jika hanya 300 biji yang terjual, penghasilannya dari selisih harga tersebut sekitar Rp90 ribu.
Besaran itu belum sepenuhnya menjadi uang yang dibawa pulang.
Oding masih harus memperhitungkan biaya operasional seperti bahan bakar kendaraan serta makan dan minum selama berjualan.
Karena itu, pendapatan bersihnya bergantung pada jumlah cilok yang berhasil terjual setiap hari.
“Bersihnya 100,” kata Oding, menggambarkan penghasilan yang biasanya ia dapat setelah memperhitungkan kebutuhan selama berjualan.
Dengan penghasilan tersebut, Oding tetap bertahan. Ia tidak menjadikan kecilnya margin sebagai alasan untuk berhenti.
Sebaliknya, ia terus mendorong gerobaknya dari satu tempat ke tempat lain demi mencukupi kebutuhan keluarga.
Selain berjualan cilok, Oding sesekali mengambil pekerjaan lain untuk menambah pemasukan.
Ia pernah mengangkut pasir, batu, atau barang lainnya ketika ada kesempatan.
Meski begitu, ia tidak meninggalkan usaha cilok. Dagangan tersebut tetap menjadi sumber penghasilan utamanya.
“Kadang ada ngangkut pasir, terus sekali-kali ngangkut apa gitu. Tetap fokus ke makanan cilok,” ujarnya.
Oding juga menghadapi persoalan klasik pedagang kecil: pembeli yang berutang.
Ia mengatakan masih ada pelanggan yang mengambil cilok tetapi belum langsung membayar.














