banner 720x220
News  

DWP Diskominfo Ciamis Edukasi Anak Usia Dini agar Bijak Menggunakan Gawai

DWP Diskominfo Ciamis Edukasi Anak Usia Dini. (Dok, foto. Istimewa)
DWP Diskominfo Ciamis Edukasi Anak Usia Dini. (Dok, foto. Istimewa)

CIAMIS,Kondusif.com,- Layar telepon seluler kerap menjadi teman bermain anak. Namun, ketika penggunaannya tak lagi terkontrol, gawai bisa berubah menjadi sumber persoalan. Anak dapat sulit berhenti bermain, mudah tantrum ketika gawai diambil, hingga terpapar konten yang belum sesuai dengan usianya.

Kondisi itu mendorong Dharma Wanita Persatuan (DWP) Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Ciamis turun langsung memberikan edukasi kepada anak-anak usia dini.

Melalui program DWP Mengajar, mereka mengenalkan cara menggunakan gawai secara sehat dan bijak.

Kegiatan tersebut berlangsung di RA Ulil Albab 2, Dusun Cileueur, Desa Tanjungsukur, Kecamatan Rajadesa, Kamis, 3 September 2026.

Sekitar 40 anak berusia 4 hingga 6 tahun mengikuti kegiatan yang mengusung tema “Bijak Menggunakan Gawai” itu.

Ketua DWP Diskominfo Kabupaten Ciamis, Erna Enda, bersama anggota DWP menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut.

Kepala Diskominfo Kabupaten Ciamis Enda Hidayat beserta jajaran juga hadir mendampingi kegiatan.

Di hadapan para siswa, narasumber tidak sekadar menjelaskan apa itu gawai.

Mereka juga mengenalkan aturan sederhana yang bisa diterapkan anak dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satunya, anak harus meminta izin kepada ayah atau ibu sebelum menggunakan telepon seluler.

Selain itu, waktu menatap layar perlu dibatasi agar anak tidak menghabiskan terlalu banyak waktu dengan perangkat digital.

Dalam edukasi tersebut, narasumber menyarankan penggunaan gawai sekitar 15 hingga 30 menit sehari.

Pembatasan itu menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan mata sekaligus mendorong anak lebih banyak melakukan aktivitas fisik dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

Anak Diajak Memilih Aktivitas yang Lebih Sehat

Penggunaan gawai tanpa pengawasan dapat membawa sejumlah risiko. Anak berpotensi mengalami gangguan tidur, kurang bergerak, hingga menghadapi persoalan psikologis.

Risiko lain muncul ketika anak mengakses konten yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangannya.

Karena itu, para narasumber mengajak anak-anak tidak menjadikan gawai sebagai satu-satunya sumber hiburan.

Mereka memperkenalkan berbagai kegiatan sederhana yang dapat dilakukan bersama teman, seperti berlari, menari, melompat, dan bermain.

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *