banner 720x220

Saat 108 Mahasiswa Baru INU Ciamis Belajar Berdemokrasi: Berani Kritik, Siap Beri Solusi

CIAMIS,Kondusif.com— Rangkaian Ta’aruf Mahasiswa Baru Institut Nahdlatul Ulama (TA’AWANU) Ciamis Tahun Akademik 2026/2027 resmi berakhir, Rabu (23/9/2026). Penutupan tiga hari kegiatan tersebut ditandai dengan simulasi aksi demonstrasi yang diikuti 108 mahasiswa baru di lingkungan Kampus Institut Nahdlatul Ulama Ciamis.

Bukan sekadar kegiatan penutup, simulasi tersebut dikemas sebagai ruang belajar bagi mahasiswa untuk mengenal praktik demokrasi, kebebasan menyampaikan pendapat serta mekanisme penyampaian aspirasi secara santun, tertib dan bertanggung jawab.

Melalui simulasi itu, mahasiswa baru diperkenalkan bahwa kritik dan penyampaian pendapat merupakan bagian dari kehidupan akademik. Namun, kebebasan tersebut juga harus berjalan beriringan dengan etika, argumentasi, data serta penghormatan terhadap perbedaan.

Dalam aksi simbolis tersebut, mahasiswa menyampaikan sejumlah aspirasi kepada pihak kampus. Di antaranya mengenai transparansi anggaran, kecukupan konsumsi, variasi dan kualitas acara, serta kejelasan sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan kemahasiswaan.

Aspirasi disampaikan melalui orasi, pembacaan pernyataan sikap dan dialog yang berlangsung dalam suasana edukatif.

Sejak kegiatan dimulai, antusiasme mahasiswa terlihat dari penggunaan berbagai atribut aksi berupa poster dan spanduk yang memuat pesan-pesan kritis. Namun, seluruh rangkaian tetap diarahkan untuk mengedepankan etika akademik dan ketertiban.

Perumus kegiatan simulasi aksi, Arip Saripin, mengatakan kegiatan tersebut sengaja dimasukkan dalam rangkaian TA’AWANU untuk memberikan pengalaman praktis kepada mahasiswa baru mengenai budaya demokrasi di lingkungan perguruan tinggi.

“Kita di sini bukan untuk memprovokasi ataupun membuat keributan, melainkan untuk menyuarakan suara dan aspirasi melalui kegiatan demonstrasi yang dilakukan secara santun, terarah, dan bertanggung jawab,” ujar Arip.

Menurutnya, mahasiswa perlu memahami bahwa menyampaikan kritik bukan berarti memusuhi pihak yang dikritik. Kritik justru dapat menjadi bentuk kepedulian terhadap kemajuan bersama apabila disampaikan melalui argumentasi yang kuat dan cara yang tepat.

“Kampus adalah ruang dialog, ruang berpikir, dan ruang tumbuhnya gagasan-gagasan yang membangun. Oleh karena itu, mahasiswa perlu belajar bagaimana menyampaikan aspirasi dengan argumentasi yang kuat, data yang jelas, serta tetap menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan akademik,” katanya.

Arip menambahkan, mahasiswa memiliki posisi penting sebagai bagian dari masyarakat intelektual. Karena itu, keberanian menyampaikan kritik idealnya berjalan bersama kemampuan menawarkan solusi.

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *