Karena itu pula, Kapolres meminta masyarakat tidak ragu menyampaikan informasi jika menemukan dugaan peredaran narkoba, miras, maupun OKT ilegal.
Bagi Niko, langkah tersebut penting untuk memutus mata rantai peredaran sebelum barang terlarang itu menjangkau lebih banyak orang, terutama anak-anak dan generasi muda.
“Yang paling penting, mari kita bersama-sama menjaga anak-anak dan generasi muda Kabupaten Garut agar tidak terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba dan obat-obatan terlarang. Masa depan mereka adalah tanggung jawab kita bersama,” katanya.
Tak Cukup Menangkap Pengguna
Sementara itu, BNN Kabupaten Garut memaparkan perkembangan ancaman narkotika yang semakin kompleks.
Selain munculnya jenis narkotika baru, jaringan peredaran juga terus mengembangkan beragam modus penyelundupan dan distribusi.
Karena itu, pemberantasan tidak cukup berhenti pada pengguna atau pelaku lapangan.
Aparat perlu membongkar jaringan yang berada di belakangnya, termasuk aliran komunikasi dan uang hasil kejahatan.
Pendekatan yang digunakan mencakup follow the man, follow the goods, follow the communication, dan follow the money.
Dengan cara tersebut, penegakan hukum diarahkan untuk mengikuti pelaku, barang, komunikasi, hingga aliran dana yang berkaitan dengan kejahatan narkotika.
Deklarasi di Garut itu pada akhirnya bukan sekadar seremoni.
Pemerintah, aparat, dan masyarakat menyepakati perlunya memperkuat pengawasan mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga ruang publik.
Edukasi kepada generasi muda pun perlu diperluas.
Bersamaan dengan itu, keberanian masyarakat untuk melaporkan aktivitas mencurigakan harus terus dibangun.
Dengan langkah tersebut, deklarasi anti-narkoba diharapkan berubah menjadi gerakan bersama.
Tujuannya jelas: menjaga Kabupaten Garut tetap aman dan sehat sekaligus melindungi generasi mudanya dari jerat narkoba, miras, dan penyalahgunaan obat keras tertentu.














