Ia menilai, kemudahan akses informasi di era digital memang membawa banyak manfaat, namun juga berpotensi menjauhkan pelajar dari sejarah dan budaya daerahnya sendiri apabila tidak diimbangi dengan pendidikan yang kontekstual.
“Karena itu, eksplorasi budaya menjadi salah satu ikhtiar kami untuk menghadirkan proses belajar yang lebih bermakna. Kami ingin kader IPM tidak hanya mengenal sejarah melalui buku, tetapi merasakan langsung jejak peradaban yang pernah dibangun oleh para leluhur,” katanya.
Bagi PD IPM Kabupaten Ciamis, menggali budaya bukan berarti terjebak pada romantisme masa lalu. Sebaliknya, sejarah dipandang sebagai sumber inspirasi untuk melahirkan generasi yang berpikir kritis, bijaksana, visioner, dan mampu menjawab tantangan masa depan tanpa kehilangan identitasnya.
Kegiatan tersebut juga menjadi sarana mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal dengan prinsip Islam Berkemajuan yang menjadi landasan gerakan Muhammadiyah.
Nilai kejujuran, musyawarah, gotong royong, tanggung jawab, serta penghormatan terhadap ilmu pengetahuan dinilai memiliki keselarasan dengan kearifan lokal yang berkembang di Tatar Galuh.
Melalui eksplorasi budaya ini, PD IPM Kabupaten Ciamis berharap tumbuh kesadaran kolektif di kalangan pelajar untuk ikut menjaga, merawat, dan melestarikan situs-situs bersejarah sebagai warisan peradaban bangsa.
Sebab, di tengah laju modernisasi, budaya tidak cukup hanya dijaga secara fisik, tetapi juga harus dipahami nilai dan maknanya agar tetap hidup dalam karakter generasi penerus.
Dengan semangat tersebut, IPM Kabupaten Ciamis menegaskan komitmennya menghadirkan kaderisasi yang tidak hanya berorientasi pada penguatan organisasi, tetapi juga membangun pelajar yang berakhlak mulia, berilmu, mencintai budaya, memiliki wawasan kebangsaan, serta mampu mengintegrasikan nilai-nilai lokal dengan semangat Islam Berkemajuan demi masa depan Kabupaten Ciamis, Persyarikatan Muhammadiyah, dan Indonesia yang lebih maju.***
Reporter: Hasna Ismie Lilutfiyah














