banner 720x220
News  

KOPRI PMII Jabar Soroti Dugaan Mahasiswa Terlibat Narkoba, Desak Kampus Perketat Pengawasan

Wakil Ketua Bidang Pendidikan KOPRI PKC PMII Jawa Barat, Sarah Annisya. (Dok, foto. Istimewa)
Wakil Ketua Bidang Pendidikan KOPRI PKC PMII Jawa Barat, Sarah Annisya. (Dok, foto. Istimewa)

Sarah menambahkan penyalahgunaan narkotika di kalangan mahasiswa dipengaruhi berbagai faktor.

Mulai dari lemahnya pengawasan, rendahnya literasi hukum, tekanan lingkungan, hingga masuknya jaringan narkotika yang menyasar kelompok usia produktif.

Meski demikian, ia meminta masyarakat tidak menggeneralisasi dugaan tindak pidana yang dilakukan seorang oknum kepada seluruh civitas akademika maupun institusi pendidikan.

“Kita harus mampu membedakan antara tanggung jawab personal pelaku dengan marwah institusi pendidikan. Jangan sampai satu dugaan tindak pidana yang dilakukan oleh oknum mencederai reputasi ribuan mahasiswa yang selama ini berprestasi dan menjaga nama baik kampusnya. Namun, institusi pendidikan juga tidak boleh menutup mata. Evaluasi sistem pengawasan, pembinaan karakter, serta penguatan pendidikan anti-narkotika harus dilakukan secara menyeluruh,” katanya.

Ancaman SDM Indonesia

Lebih lanjut, Sarah menilai masuknya narkotika ke lingkungan perguruan tinggi merupakan ancaman serius terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Menurutnya, ketika narkotika berhasil menyusup ke ruang akademik, yang dipertaruhkan bukan hanya nama baik kampus, tetapi juga masa depan generasi muda.

“Hari ini kita tidak hanya berbicara tentang pelanggaran hukum, tetapi juga ancaman terhadap masa depan generasi bangsa. Ketika narkotika berhasil menembus ruang akademik, yang dipertaruhkan bukan sekadar citra kampus, melainkan masa depan intelektual Indonesia. Kampus harus menjadi benteng terakhir yang menjaga nalar kritis, integritas, dan harapan generasi muda,” tegasnya.

Di sisi lain, Sarah mengajak mahasiswa tidak bersikap apatis terhadap persoalan narkotika.

Ia menegaskan mahasiswa memiliki peran sebagai agent of change, social control.

Sekaligus moral force dalam menjaga lingkungan akademik tetap sehat dan bebas dari narkotika.

“Kami mengajak seluruh civitas akademika menjadikan peristiwa ini sebagai momentum memperkuat budaya akademik yang sehat, inklusif, dan bebas dari narkotika. Pencegahan akan selalu lebih bermakna daripada penindakan. Mahasiswa harus dibekali bukan hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga ketahanan moral, mental, dan sosial agar tidak mudah terjerumus dalam praktik yang merusak masa depannya sendiri,” ujarnya.

KOPRI PKC PMII Jawa Barat menegaskan akan terus mendorong terciptanya lingkungan pendidikan tinggi yang aman, berintegritas, serta bebas dari penyalahgunaan dan peredaran narkotika.

Organisasi itu akan menguatkan literasi hukum, pendidikan karakter, advokasi kebijakan, dan kolaborasi lintas sektor.

Selain itu, KOPRI juga mengajak perguruan tinggi, pemerintah, aparat penegak hukum, organisasi kemahasiswaan, hingga masyarakat untuk bersama-sama memperkuat perlindungan kampus dari ancaman narkotika.

Menurut mereka, menjaga kampus tetap bersih dari narkoba merupakan tanggung jawab bersama demi melindungi generasi penerus bangsa.

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *