Langkah ini diambil demi mengawal jemaah yang mulai melaksanakan lontar jumrah Aqabah hingga hari tasyrik mendatang.
- 751 Petugas Siaga: Personel disebar di tenda-tenda jemaah dan pos layanan sepanjang jalur Jamarat.
- 10 Satuan Ad-hoc: Tim khusus ini membagi tugas untuk memantau 11 hingga 13 markas (kawasan tenda).
- Tim Masjidil Haram: Sebagian petugas juga tetap bersiaga di area rukun haji selanjutnya.
”Penguatan lini layanan ini bertujuan agar jemaah mendapatkan perlindungan, pendampingan, serta penanganan medis secara cepat dan terkoordinasi,” kata Maria menambahkan.
Hindari Jam Keramat: Suhu Mina Tembus 41°C
Mengingat cuaca ekstrem yang sedang melanda Arab Saudi, Kemenhaj mengeluarkan ultimatum keras terkait jadwal melontar.
Jemaah dilarang keras memaksakan diri keluar tenda saat matahari sedang terik.
- Waktu Terlarang: Pukul 10.00 hingga 14.00 WAS (puncak panas dan kepadatan).
- Jalur Resmi: Jemaah wajib menggunakan jalur dua (jalur atas) yang lebih minim risiko penumpukan massa.
”Suhu di Mina menyentuh 41 derajat celcius. Kami minta jemaah tetap di dalam tenda pada jam-jam tersebut dan memanfaatkan jalur atas yang sudah kami siapkan demi keselamatan,” tegasnya.
Jaga Kesehatan, Kawal Lansia
Menutup keterangannya, Maria mengingatkan jemaah untuk terus menghidrasi tubuh dengan rajin minum air putih, makan tepat waktu, dan selalu menggunakan payung saat keluar ruangan.
Ia juga menitipkan pesan khusus kepada ketua kloter dan rombongan terkait jemaah rentan.
”Bagi jemaah lansia, disabilitas, dan risiko tinggi, mohon saling menjaga. Perhatian dari sesama jemaah sangat berarti di fase krusial ini,” ucapnya.
Tak lupa, momentum Iduladha 1447 Hijriah ini dimanfaatkan Kemenhaj untuk mengucapkan selamat hari raya kepada seluruh umat Muslim.
“Semoga seluruh jemaah Indonesia diberi kekuatan menyelesaikan sisa rukun haji, dan kembali ke Tanah Air sebagai haji yang mabrur,” pungkas Maria.














