banner 720x220
News  

Ikhtiar Spiritual di Utan Kayu: Saat BEM Pesantren Meruqyah Narasi Provokasi

Foto: (istimewa)
Foto: (istimewa)

​Puncak aksi simbolis ini berlangsung khidmat. Para peserta melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan zikir kebangsaan.

Sebotol air doa kemudian mereka siramkan ke area sekitar sebuah simbolisasi untuk mendinginkan suasana politik yang kian memanas.

Ruqyah ini, menurut Tomy, adalah bentuk harapan agar pihak-pihak yang kerap melempar narasi provokatif kembali jernih dalam berpikir.

​Cermin Buruk dari Timur Tengah

​Tak sekadar urusan doa, Tomy juga membedah risiko instabilitas dari kacamata sejarah.

Ia berkaca pada tragedi di sejumlah negara Timur Tengah, di mana narasi delegitimasi dan upaya penggulingan kekuasaan di luar jalur hukum berakhir dengan kehancuran ekonomi serta krisis kemanusiaan yang pedih.

​”Indonesia jangan sampai terjebak dalam lubang yang sama. Perbedaan pandangan harus mengalir melalui kanal demokrasi yang sehat,” tambahnya.

​Lima Maklumat Santri

​Di akhir aksi, BEM Pesantren membacakan sikap resmi mereka yang dirangkum dalam lima poin utama:

  1. ​Lawan Provokasi: Menolak keras narasi yang memecah belah dan merusak stabilitas.
  2. ​Jaga Kondusivitas: Mengajak publik agar tidak mudah tersulut isu konflik sosial.
  3. ​Tegakkan Hukum: Mendukung penegakan hukum bagi siapa pun yang melanggar konstitusi.
  4. ​Demokrasi Sehat: Meneguhkan komitmen santri pada nilai-nilai kebangsaan.
  5. ​Dialog Pemuda: Mengutamakan semangat ukhuwah dalam bernegara.

​Tomy menutup aksi tersebut dengan menekankan bahwa gerakan ini bukanlah serangan personal.

Baginya, mencintai tanah air adalah bagian dari iman.

“Bagi kami, demokrasi harus tetap dijaga dengan akhlak dan penghormatan penuh terhadap konstitusi,” pungkasnya sebelum membubarkan barisan dengan tertib.

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *