JAKARTA,Kondusif.com,- Kawasan Komunitas Utan Kayu, Jakarta Timur, yang biasanya riuh dengan diskusi intelektual, mendadak berubah riuh oleh gema zikir. Rabu, 13 Mei 2026, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam BEM Pesantren Seluruh Indonesia menyatroni kawasan tersebut.
Bukan untuk berdemonstrasi dengan kepalan tangan, melainkan membawa misi spiritual: menggelar “Ruqyah Kebangsaan.”
Aksi ini merupakan respons langsung terhadap kegaduhan di ruang publik.
Para santri ini mengaku gerah dengan merebaknya narasi provokatif yang mereka nilai mulai menggerogoti stabilitas nasional.
Pilihan lokasi di Utan Kayu pun bukan tanpa alasan.
Mereka menuding tempat ini menjadi panggung bagi pernyataan Saiful Mujani, yang belakangan memicu polemik karena dianggap menyerempet ajakan inkonstitusional terhadap pemerintah.
Menyiram “Hawa Panas” Politik
Koordinator Pusat BEM Pesantren, Ahmad Tomy Wijaya, memimpin langsung barisan santri tersebut.
Sambil menggenggam pengeras suara, ia mengingatkan bahwa kebebasan berpendapat tak boleh menabrak pagar konstitusi.
”Demokrasi tidak boleh dipelintir menjadi ruang untuk membangun kebencian atau ajakan yang mengganggu stabilitas nasional. Santri punya tanggung jawab moral menjaga persatuan,” tegas Tomy di sela-sela aksi.














