CIAMIS,Kondusif.com,- Musyawarah Besar (Mubes) Balad Galuh tidak hanya menjadi forum pergantian kepengurusan. Di Aula KONI Ciamis, Kompleks Perkantoran Kertasari, Sabtu, 5 September 2026, kelompok suporter PSGC Ciamis itu juga menegaskan kembali arah organisasi: memperbesar basis suporter, menjaga solidaritas, sekaligus mempertahankan sikap independen.
Forum tersebut akhirnya kembali memilih Dian Sholeh alias Ghozin sebagai Ketua Umum Balad Galuh periode 2026-2031.
Ghozin menjadi calon tunggal dan terpilih secara aklamasi setelah menyampaikan visi dan misinya di hadapan anggota.
Para anggota yang tergabung dalam 18 Korwil menyatakan sepakat mempertahankan Ghozin untuk memimpin Balad Galuh lima tahun ke depan.
Bagi Ghozin, amanah tersebut sekaligus menjadi pekerjaan rumah baru.

Ia mengatakan masih banyak hal yang harus dibenahi, terutama dalam memperbesar basis suporter Balad Galuh.
“Masih banyak PR yang harus dibereskan, terutama dalam pembesaran suporter,” kata Ghozin seusai Mubes.
Ia ingin Balad Galuh tumbuh sebagai kelompok suporter yang solid dan tetap menjunjung sportivitas.
Menurut dia, dukungan kepada PSGC seharusnya tidak berhenti pada fanatisme di tribun.
“Kita hadir untuk mendukung tim kebanggaan selama dua kali 45 menit di dalam stadion. Selebihnya kita adalah keluarga dengan suporter manapun,” ujarnya.
Menjaga Sejarah Balad Galuh

Dalam sambutannya sebelum Mubes, Ghozin juga mengingatkan anggota untuk tidak melupakan sejarah organisasi.
Ia menyebut sejumlah pendiri dan tokoh awal Balad Galuh yang hadir dalam forum tersebut.
Di antaranya Antik, yang kini menjabat Ketua PWI Ciamis, serta Eko dan Deni yang disebut sebagai bagian dari perintis Balad Galuh.
Ghozin meminta anggota baru menghormati para pendahulu organisasi.
Ia menilai keberadaan Balad Galuh hari ini tidak terlepas dari orang-orang yang lebih dulu membangun kelompok tersebut.
“Jangan melupakan sesuatu. Mereka yang melahirkan organisasi ini,” katanya.
Bagi Ghozin, sikap tersebut bukan sekadar persoalan senioritas.
Ia ingin sejarah menjadi bagian dari etika dalam kehidupan organisasi.
Pada saat yang sama, Balad Galuh mulai membuka ruang bagi pembentukan sejumlah koordinator wilayah (korwil) baru.
Ghozin menyebut setidaknya ada rencana pembentukan korwil di Pamarican dan Baregbeg.
Selain itu, ada pula rencana Korwil Santri yang diproyeksikan berasal dari Bayasari.
Balad Galuh menetapkan sedikitnya 20 anggota sebagai syarat pembentukan korwil.
Sebelumnya, organisasi itu juga mencatat sedikitnya 1. 250 kartu tanda anggota (KTA) sebelum proses pemutihan.
Pengembangan tidak hanya diarahkan ke wilayah Kabupaten Ciamis.
Balad Galuh juga telah memiliki basis di luar daerah, antara lain Bandung Motherland dan korwil Jabodetabek.
Tak Mau Bergantung APBD
Di tengah rencana memperbesar organisasi, Ghozin menegaskan satu hal: Balad Galuh ingin tetap independen.
Ia mengatakan organisasi suporter tersebut selama ini tidak bergantung pada pemerintah daerah ataupun dana APBD.
Tawaran untuk memasukkan organisasi ke dalam wadah tertentu demi mendapatkan bantuan, kata dia, pernah muncul.
Namun, Ghozin memilih mempertahankan independensi Balad Galuh.
“Bukan kita tidak butuh. Tetapi kebersamaan kita juga bisa berjalan tanpa itu,” ujarnya.
Sikap tersebut, menurut dia, menjadi salah satu prinsip yang ingin dipertahankan dalam kepengurusan berikutnya.
Balad Galuh juga menempatkan kritik terhadap PSGC sebagai bagian dari dukungan.
Ghozin meminta anggota tidak sekadar memenuhi tribun ketika pertandingan berlangsung, tetapi juga berani memberikan kritik ketika performa tim tidak sesuai harapan.














