”Kalau hanya penyampaian materi secara formal, mungkin tidak semua bisa terserap dengan baik. Tetapi ketika dikombinasikan dengan budaya, masyarakat akan lebih mudah memahami dan mengingat pesan yang disampaikan,” ujar Irwan saat memberikan sambutan.
Melihat antusiasme warga yang tinggi, Irwan berharap model edukasi santai, menarik, dan tidak kaku ini bisa terus berlanjut di wilayah-wilayah lain.
Membangun Nalar Kritis dari Desa
Di sisi lain, Kepala Bidang Politik Dalam Negeri dan Ormas Kesbangpol Ciamis, Maman Suryaman, mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan langkah nyata implementasi Peraturan Bupati Ciamis Nomor 27 Tahun 2021 tentang pendidikan politik masyarakat.
Maman juga menegaskan, esensi politik tidak boleh menyempit hanya sebatas urusan mencoblos di bilik suara saat pemilu.
Lebih dari itu, politik juga adalah soal bagaimana membangun kesadaran masyarakat untuk ikut mengawal pembangunan daerah dan menjaga fondasi kebangsaan.
“Kami ingin membangun kesadaran kritis masyarakat agar tidak apatis terhadap politik. Pendidikan politik harus mampu melahirkan masyarakat yang aktif, cerdas, dan tetap menjunjung nilai budaya bangsa,” kata Maman.
Bagi Kesbangpol, mengawinkan pendidikan politik dengan seni pertunjukan tradisional adalah strategi ganda yang jitu.
Langkah ini juga tidak hanya efektif memperkuat napas demokrasi yang sehat di akar rumput.
Tetapi juga menjadi benteng pertahanan untuk merawat identitas budaya lokal agar tidak punah digilas zaman.














