Konsep tersebut membuat pentas seni tidak sekadar menjadi hiburan malam kemerdekaan.
Panitia sekaligus memanfaatkan momentum itu untuk mempertemukan para pelaku seni, anak-anak sanggar, dan masyarakat dalam satu panggung.
Di sisi lain, kegiatan tersebut juga membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal kesenian tradisional secara langsung.
Anak-anak sanggar belajar tampil
Pemilik RM Nemplok Hejo, Hj. Neneng, turut mendukung kegiatan dengan menyediakan tempat untuk pelaksanaan puncak acara.
Ia mengatakan kegiatan tersebut penting untuk memperkenalkan kembali budaya Sunda kepada generasi berikutnya.
Selain itu, acara menjadi kesempatan bagi warga untuk berkumpul dan mempererat hubungan sosial.
“Tujuannya mengenalkan budaya Sunda kepada generasi yang akan datang serta menjadi ajang silaturahmi antarwarga di RW 003. Harapannya, budaya-budaya Sunda ke depannya semakin maju lagi,” ujar Neneng.
Sanggar Ringkang Pamitran juga ikut tampil dalam rangkaian pentas.
Pelatih sanggar, Herlina atau Teh Inong, mengatakan keikutsertaan anak-anak sanggar memberi manfaat lain di luar kemampuan menari atau memainkan kesenian.
Menurut dia, tampil di depan masyarakat dapat melatih keberanian dan rasa percaya diri anak.
“Alhamdulillah tahun ini anak-anak sanggar ikut memeriahkan puncak acara Semarak HUT RI ke-81 di RW 003, sekaligus mengasah anak-anak untuk percaya diri dan berani tampil di depan umum,” katanya.
Pentas seni yang berlangsung hingga dini hari itu akhirnya memperlihatkan cara lain warga merayakan kemerdekaan.
Bukan hanya dengan perlombaan dan hiburan modern, tetapi juga dengan memberi panggung kepada kesenian yang tumbuh dari lingkungan sendiri.
Bagi muda-mudi RW 003, menjaga budaya tidak cukup dengan mengenangnya.
Mereka membawa pencak silat, jaipongan, angklung buncis, sisingaan, hingga ebleg kembali ke hadapan warga dan memberi kesempatan kepada generasi muda untuk ikut menjadi bagian dari keberlangsungannya.














