banner 720x220

Pegawai Dinas Perpustakaan Ciamis Jadi Pemain Kabaret, Sampaikan Pesan Literasi Lewat Seni

Pegawai Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ciamis tampil dalam kabaret literasi pada pembukaan Festival Literasi Ciamis 2026 di Halaman Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Ciamis, Selasa (22/9/2026). Pertunjukan tersebut menyampaikan pesan tentang pentingnya membaca, belajar, dan memanfaatkan perpustakaan melalui seni. (Dok, foto. Kondusif.com/direstorasi AI)
Pegawai Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ciamis tampil dalam kabaret literasi pada pembukaan Festival Literasi Ciamis 2026 di Halaman Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Ciamis, Selasa (22/9/2026). Pertunjukan tersebut menyampaikan pesan tentang pentingnya membaca, belajar, dan memanfaatkan perpustakaan melalui seni. (Dok, foto. Kondusif.com/direstorasi AI)

CIAMIS,Kondusif.com,- Sejumlah pegawai Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ciamis tampil di atas panggung dalam kabaret literasi pada pembukaan Festival Literasi Ciamis 2026, Selasa (22/9/2026).

Bukan sekadar pertunjukan hiburan, kabaret tersebut menjadi cara para pegawai menyampaikan pesan tentang pentingnya membaca dan belajar melalui seni.

Mereka mengangkat cerita tentang empat anak dengan cita-cita berbeda yang kemudian mengenal buku melalui kehadiran perpustakaan keliling.

Pertunjukan itu berlangsung di Halaman Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ciamis.

Para pegawai memainkan karakter yang menggambarkan kehidupan anak-anak di sebuah desa kecil dengan berbagai impian.

Cerita bermula dari empat anak yang memiliki cita-cita berbeda. Ada yang ingin menjadi ustaz, dokter, hingga pengusaha.

Namun, salah seorang anak justru digambarkan lebih banyak bermalas-malasan dan tidak tertarik belajar.

Situasi berubah ketika mobil perpustakaan keliling datang ke desa mereka.

Seorang guru kemudian mengenalkan layanan tersebut kepada anak-anak dan mengajak mereka memanfaatkan buku sebagai sumber pengetahuan.

Hari demi hari, minggu berganti minggu, mobil perpustakaan terus datang membawa buku.

Anak-anak pun mulai membaca, berdiskusi, belajar, dan mengenal berbagai pengetahuan baru.

Melalui buku, mereka belajar agama, bisnis, hingga memahami cara memilah informasi.

Cerita itu juga menyisipkan pesan mengenai pentingnya membedakan berita yang benar dan berita bohong di tengah derasnya arus informasi.

Sepuluh tahun kemudian, buku yang mereka baca menjadi bekal untuk mengejar cita-cita.

Ada yang berhasil menjadi ustaz, pengusaha sukses, dan dokter anak.

Sementara itu, tokoh yang dahulu memilih bermalas-malasan justru menyesali keputusannya karena tidak membiasakan diri membaca.

Teman-temannya kemudian mengingatkan bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar.

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *