Meski perdagangan kini banyak beralih ke platform digital, Fikri mengaku tetap mengandalkan penjualan secara langsung.
Menurutnya, pembeli lebih sering datang memilih sendiri atribut yang dibutuhkan dibandingkan memesan secara daring.
“Biasanya tidak terlalu melayani penjualan online. Lebih banyak jualan langsung di pinggir jalan,” katanya.
Datang dari Garut, Tinggal Sementara di Ciamis
Bagi Fikri, berjualan di Ciamis bukan pengalaman baru. Hampir setiap tahun ia datang bersama rekan-rekannya dari Garut untuk mencari rezeki selama musim kemerdekaan.
Menurutnya, mayoritas pedagang bendera yang berjualan di kawasan tersebut juga berasal dari Garut.
Jumlahnya mencapai puluhan orang dan tersebar di sejumlah titik strategis di Kabupaten Ciamis.
Selama berdagang, mereka tinggal sementara di kawasan Gayam hingga musim penjualan berakhir.
“Hampir semua dari Garut. Banyak, ada puluhan orang,” ujarnya.
Setiap hari, Fikri membuka lapaknya mulai pukul 08.00 WIB hingga sekitar pukul 17.00 WIB.
Ia berencana tetap berjualan hingga 15 Agustus mendatang sebelum kembali ke kampung halamannya.
Ramai Tidaknya Pembeli Bergantung Lokasi
Meski setiap tahun selalu datang, Fikri mengakui hasil penjualan tidak pernah bisa dipastikan.
Ramainya pembeli sangat dipengaruhi lokasi berdagang dan tingginya antusiasme masyarakat menyambut HUT RI.
Pengalaman tahun lalu menunjukkan penjualan cukup baik, meski tidak selalu ramai setiap hari.
“Kadang ramai, kadang biasa saja. Tergantung tempat jualannya,” katanya.
Memasuki Agustus tahun ini, Fikri berharap semangat masyarakat memasang bendera Merah Putih dan menghias lingkungan kembali meningkat.
Harapan itu bukan hanya untuk dirinya, melainkan juga bagi puluhan pedagang musiman lain yang menggantungkan penghasilan dari momen perayaan kemerdekaan.
“Semoga Agustus ini ramai. Mudah-mudahan semua penjual bendera sukses dan suasana kemerdekaan semakin meriah,” tuturnya.














