Menurut Enda, perjalanan selama hampir tiga dekade menunjukkan konsistensi IJTI dalam menjaga profesionalisme, integritas, dan eksistensi jurnalis televisi di tengah perubahan teknologi.
Ia menilai tema “Menjaga Marwah Jurnalisme Televisi di Tengah Badai Disrupsi” sangat relevan dengan kondisi saat ini.
Sebab, teknologi digital telah mengubah cara masyarakat mencari, menerima, dan menyebarkan informasi.
Di satu sisi, perkembangan tersebut memudahkan masyarakat memperoleh informasi.
Namun di sisi lain, derasnya arus informasi juga memperbesar peluang munculnya kabar palsu atau hoaks.
Enda mengatakan Pemerintah Kabupaten Ciamis melalui jajaran terkait terus melakukan pemantauan terhadap informasi yang berkembang di ruang digital.
Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui program CLIKS (Ciamis Libas Hoaks).
Program itu digunakan untuk memonitor berbagai isu, melakukan verifikasi, serta memberikan klarifikasi terhadap informasi yang dinilai menyesatkan.
“Pada tahun 2025 kami telah menangani sekitar 177 konten berita klarifikasi hoaks. Sementara hingga Juli 2026, kami sudah menangani sebanyak 157 konten klarifikasi, baik isu lokal maupun nasional,” kata Enda.
Data tersebut, menurut dia, menunjukkan bahwa persoalan hoaks membutuhkan penanganan yang konsisten.
Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Pers juga memiliki posisi strategis karena produk jurnalistik dapat menjadi salah satu rujukan dalam proses membandingkan informasi yang beredar di media sosial.
Enda mengatakan pihaknya juga memanfaatkan pemberitaan media sebagai salah satu referensi untuk memeriksa informasi yang berkembang di masyarakat.
Proses tersebut kemudian dibandingkan dengan data atau keterangan dari sumber yang berwenang.
Karena itu, ia menilai kualitas produk jurnalistik menjadi penting.
Jurnalis bukan hanya dituntut cepat, tetapi juga harus menjaga akurasi, objektivitas, etika, serta kepentingan publik.
Pers Berperan dalam Membangun Citra Daerah
Selain menangkal hoaks, Enda menilai pers memiliki kontribusi besar dalam memperkenalkan potensi dan capaian pembangunan Kabupaten Ciamis.
Menurut dia, banyak orang yang memperoleh gambaran tentang Ciamis melalui pemberitaan yang diproduksi insan pers.
Informasi tersebut kemudian menjadi salah satu pintu masuk bagi masyarakat luar daerah untuk mengenal Ciamis.
Ia mencontohkan berbagai capaian Kabupaten Ciamis yang mendapat perhatian publik setelah diberitakan media.
Salah satunya terkait predikat Ciamis sebagai salah satu kabupaten terbersih di Asia Tenggara.
Enda mengatakan pemberitaan media menjadi salah satu referensi yang turut membantu memperkenalkan capaian tersebut kepada masyarakat luas.
Karena itu, ia mengajak pemerintah dan insan pers membangun ekosistem informasi yang sehat.
Tujuannya sederhana: masyarakat mendapatkan informasi yang benar, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ia juga berharap IJTI Korda Galuh Raya terus menjadi ruang untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme jurnalis televisi.
Organisasi profesi tersebut, kata dia, diharapkan tetap memberikan kontribusi bagi masyarakat sekaligus mendukung pembangunan daerah.
Pada akhirnya, badai disrupsi tidak hanya menguji kemampuan media untuk bertahan.
Lebih dari itu, perubahan tersebut menguji sejauh mana jurnalis mampu mempertahankan kepercayaan publik.
Di tengah banjir informasi, pers justru dituntut semakin selektif.
Ketika semua orang dapat menyebarkan informasi, jurnalis harus tetap menjadi pihak yang memastikan informasi itu benar sebelum sampai kepada masyarakat.














