Sebaliknya, pendidikan dapat menjadi salah satu modal ketika warga binaan kembali menjalani kehidupan di luar lapas.
Degung Menjadi Ruang Ekspresi
Selain membangun keterampilan dan meningkatkan pendidikan, Lapas Ciamis memberi perhatian pada potensi seni warga binaan.
Musik degung menjadi salah satu bentuk pembinaan yang kini dikembangkan.
Supriyanto mengatakan kemampuan warga binaan itu nantinya dapat ditampilkan dalam berbagai kegiatan dan momentum tertentu.
“Kami saat ini memberikan pembinaan seni degung. Pada waktunya nanti akan kami tampilkan saat ada kegiatan atau momentum penting. Selain seni degung, kami juga memberikan pembinaan hadroh dan seni lainnya,” ujarnya.
Pembinaan seni sebenarnya bukan hal baru di Lapas Ciamis.
Sebelumnya, warga binaan telah mendapat ruang berkreasi melalui Pojok Musik Lapas.
Dari ruang tersebut, mereka bahkan menghasilkan karya berupa album “Harmoni Tanpa Batas”.
Lapas Ciamis juga membuka ruang kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Ciamis dan Polres Ciamis.
Melalui kolaborasi itu, hasil kreativitas warga binaan dapat diperkenalkan dalam berbagai kegiatan di luar lapas.
Pelayanan Publik Beralih ke Digital
Di sisi lain, pembinaan dan pelayanan di Lapas Ciamis juga mengikuti perkembangan teknologi.
Lapas Ciamis mengembangkan SIMANJA (Sistem Informasi dengan Jawaban Akurat), yakni layanan informasi berbasis pesan otomatis WhatsApp.
Melalui layanan tersebut, masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai berbagai layanan pemasyarakatan dengan lebih mudah.
Selain itu, terdapat SILACI (Sistem Layanan Terpadu Lapas Ciamis) yang dikembangkan untuk meningkatkan kualitas sekaligus mempercepat pelayanan administrasi.
Kehadiran layanan digital tersebut menjadi bagian dari upaya Lapas Ciamis menghadirkan pelayanan yang lebih mudah, transparan, dan responsif.
Bukan Sekadar Menjalani Hukuman
Pada akhirnya, seluruh program itu bermuara pada satu tujuan: mempersiapkan warga binaan agar mampu kembali menjalani kehidupan secara positif setelah menyelesaikan masa pidana.
Supriyanto mengatakan pembinaan tidak boleh sekadar membuat warga binaan melewati masa hukuman.
Lebih dari itu, proses tersebut harus memberi mereka kemampuan untuk menata kembali kehidupan.
“Yang kami harapkan bukan hanya mereka menjalani masa pembinaan di dalam lapas, tetapi juga memiliki keahlian dan keterampilan yang bisa digunakan setelah kembali ke masyarakat,” tuturnya.
Karena itu, Lapas Ciamis terus mengarahkan berbagai potensi warga binaan ke kegiatan yang produktif dan konstruktif.
Dari membuat kursi taman, mengelola pertanian, mengolah sampah, mengikuti pendidikan, membaca, hingga memainkan degung, warga binaan diberi kesempatan untuk membangun kembali kepercayaan diri dan kemandirian.
Bagi Lapas Ciamis, ukuran keberhasilan pembinaan bukan semata-mata karya yang lahir selama warga binaan berada di balik jeruji.
Ukuran yang lebih penting justru terlihat setelah mereka kembali ke tengah masyarakat: apakah keterampilan yang diperoleh mampu menjadi bekal untuk hidup mandiri dan apakah mereka dapat kembali berkontribusi secara positif.














