CIAMIS,Kondusif.com,- Bupati Ciamis Herdiat Sunarya menyampaikan gagasan untuk menjadikan Gong Perdamaian Dunia di Kabupaten Ciamis sebagai ruang mempertemukan para pemimpin negara yang tengah terlibat konflik.
Ia menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, serta Mojtaba Khamenei pengganti Ayatollah Ali Khamenei sebagai tokoh yang diharapkan dapat diundang ke Ciamis.
Herdiat menyampaikan gagasan itu saat menghadiri Milangkala ke-17 Gong Perdamaian Dunia di pelataran Gong Perdamaian Dunia, Situs Bojong Galuh Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Rabu, 9 September 2026.
Menurut Herdiat, Ciamis memiliki warisan sejarah yang berkaitan erat dengan upaya menjaga perdamaian.
Karena itu, ia ingin nilai tersebut tidak berhenti sebagai simbol, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun perdamaian di tingkat yang lebih luas.
“Sudah sepantasnya kalau di tanah ini kita mengundang Donald Trump, kita mengundang Netanyahu, kita mengundang Ayatullah Khamenei dengan penerusnya. Karena dari sinilah terciptanya perdamaian,” kata Herdiat dalam sambutannya.
Ia kemudian menyinggung konflik dan ketegangan geopolitik yang masih berlangsung di sejumlah kawasan.
Menurut dia, upaya perdamaian membutuhkan komitmen yang lebih kuat dari para pemimpin negara.
Herdiat mencontohkan pertemuan para petinggi negara yang sebelumnya berlangsung dalam forum perdamaian di Pakistan.
Ia mengatakan kesepakatan damai tidak selalu menghentikan konflik ketika para pihak kembali ke negaranya masing-masing.
“Begitu didamaikan, di dalam forum damai, begitu keluar saling rudal lagi,” ujarnya.
Karena itu, Herdiat mengusulkan agar para duta besar negara asing yang berada di Indonesia turut diundang ke Ciamis.
Ia berharap para diplomat tersebut dapat membawa pesan perdamaian dari Ciamis kepada pemerintah dan pemimpin negara masing-masing.
“Ke depan, insyaallah Abah Anton paling tidak kita undang duta-duta besar negara-negara yang ada di Indonesia,” kata dia.
Warisan Perdamaian dari Galuh
Herdiat mengaitkan gagasan tersebut dengan sejarah Galuh.
Ia menyebut Mupulung Rahayu sebagai salah satu warisan sejarah yang menunjukkan adanya upaya menjaga persatuan dan menghindari peperangan pada masa lalu.
Menurut Herdiat, Mupulung Rahayu memuat 10 perjanjian damai yang disepakati para keturunan Prabu Kendayun pada 739 Masehi.














