PANGANDARANKondusif.com – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Ciamis kembali menunjukkan bahwa pembinaan warga binaan bukan sekadar rutinitas di balik tembok penjara. Dari tempat yang identik dengan keterbatasan, lahir sebuah kisah perubahan hidup yang menginspirasi.
Sosok itu adalah Galih Septiana, warga Kabupaten Pangandaran. Setelah menjalani masa pidana di Lapas Ciamis, Galih mampu bangkit dan kini menjelma menjadi seorang pengusaha. Ia memiliki empat cabang konter HP, mengembangkan peternakan domba, serta memasok sayuran untuk hotel dan restoran di Pangandaran.
Lebih dari itu, Galih kini menjadi bagian dari perubahan bagi orang lain. Ia mempekerjakan tujuh mantan warga binaan Lapas Ciamis dan mengajak mereka membangun kehidupan dari titik nol.
Kisah tersebut bermula pada awal 2024. Saat itu, Galih mengelola usaha konter HP di Pangandaran. Namun, kehidupannya berubah setelah ia menerima sejumlah barang elektronik yang ternyata merupakan hasil penggelapan oleh oknum pegawai pemerintah.

Galih kemudian berhadapan dengan proses hukum berdasarkan Pasal 480 KUHP dan divonis dua tahun penjara.
Masuk Lapas Ciamis menjadi titik terendah dalam kehidupannya. Galih sempat mengalami keterpurukan dan kehilangan arah.
Namun, perjalanan di balik jeruji justru menjadi awal perubahan.
Galih mulai rutin mengikuti pengajian di masjid Lapas. Di sana, ia mendapatkan pembinaan keagamaan dan nasihat yang perlahan mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.
Salah satu pesan yang membekas disampaikan Kalapas Ciamis Supriyanto. Ia mengingatkan pentingnya memperbanyak istigfar dan zikir sebagai kebiasaan baik bagi petugas maupun warga binaan.
Pesan tersebut disampaikan dengan merujuk pada kandungan Surat Hud Ayat 52 dan Surat Nuh Ayat 10–12 mengenai istigfar dan keberkahan yang menyertainya.
Bagi Galih, pesan tersebut bukan sekadar tausiyah. Ia mencoba menjadikannya sebagai bagian dari perubahan diri.
Di sisi lain, Galih juga aktif mengikuti program NGOBRAS (Ngobrol Bareng Sahabat). Program pembinaan tersebut menghadirkan narasumber yang memiliki pengalaman dan keberhasilan untuk berbagi ilmu serta motivasi kepada warga binaan.
Dari NGOBRAS, Galih mendapatkan pelajaran tentang pengelolaan keuangan, kedisiplinan menabung, serta bagaimana membangun mental seorang pengusaha.
Salah satu pesan yang paling kuat tertanam dalam dirinya datang dari narasumber bernama Kang Zudin.
“Kesuksesan bisa dibangun dari nol. Tak perlu bermimpi punya modal besar untuk memulai usaha. Cukup konsisten menabung.”
Pesan sederhana tersebut kemudian menjadi pegangan Galih.
Ia memahami bahwa membangun usaha tidak harus menunggu memiliki modal besar. Bahkan jika setelah bebas hanya bekerja sebagai buruh bangunan dengan penghasilan Rp150.000 per hari, sebagian penghasilan dapat disisihkan untuk ditabung.
Jika Rp50.000 disisihkan setiap hari, dalam sebulan dapat terkumpul sekitar Rp1,5 juta. Dalam setahun mencapai sekitar Rp18 juta.
Dari kebiasaan sederhana itulah, Galih belajar bahwa kesuksesan dibangun melalui konsistensi, bukan sekadar keberuntungan.
Kang Zudin juga mengingatkan bahwa kesuksesan tidak hanya berkaitan dengan materi. Nilai keagamaan, menjaga salat, perkataan dan perbuatan, amanah, menepati janji, membayar zakat serta bersedekah menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan.














