Dengan demikian, ukuran keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya dilihat dari jumlah lulusan.
Universitas Galuh juga ingin memastikan kompetensi lulusan relevan dengan kebutuhan lapangan kerja.
Sementara itu, Wakil Rektor II mendapat pekerjaan rumah di bidang pengelolaan sumber daya.
Tita meminta sumber daya kampus dikelola secara efektif dan efisien.
Namun, ia juga mendorong pengembangan unit bisnis di lingkungan Universitas Galuh.
Langkah tersebut menjadi salah satu pekerjaan yang harus dikerjakan bersama oleh jajaran pimpinan baru.
“Bagaimana kita bisa mengelola sumber daya secara efektif dan efisien dan bagaimana bisa membuat unit bisnis yang itu akan jadi PR kita bersama,” ujar Tita.
Target Mutu dalam Empat Tahun
Tita menilai target tersebut membutuhkan kerja kolektif. Karena itu, ia meminta seluruh jajaran tidak sekadar menjalankan tugas administratif setelah pelantikan.
Para pejabat baru diharapkan segera bekerja dan melakukan transformasi sesuai bidang masing-masing.
“Harapannya pejabat baru ini bisa secepatnya bekerja, melakukan transformasi,” katanya.
Bagi Tita, penguatan budaya mutu menjadi fondasi untuk mendorong Universitas Galuh naik kelas.
Program studi harus terus memperbaiki kualitas, sementara sistem penjaminan mutu perlu memastikan proses tersebut berjalan secara terukur.
Target dua program studi berakreditasi internasional pun menjadi salah satu tolok ukur yang akan dihadapi kepemimpinannya hingga 2030.
Ia meminta dukungan seluruh sivitas akademika agar target tersebut tidak berhenti sebagai rencana.
Setiap program harus direalisasikan, diukur pencapaiannya, dan memberikan manfaat bagi kampus.
“Mohon doa dan dukungan dari semua supaya semua yang menjadi program kita bisa terealisasi, terukur, dan tentunya dicapai oleh semua dan bermanfaat untuk semua,” ujar Tita.














