Pola tersebut dinilai mampu meningkatkan efisiensi lahan sekaligus memperbesar potensi pendapatan petani.
“Ini menjadi terobosan yang sangat baik. Satu lahan bisa dimanfaatkan untuk berbagai komoditas. Harapan kami, ke depan Ciamis mampu menjadi sentra bawang merah dan menyuplai kebutuhan daerah tetangga seperti Tasikmalaya, Banjar, hingga Pangandaran,” ujarnya.
Hasil Tanam di Lahan 2 Hektare
Lebih lanjut, Hidayatullah menjelaskan hasil uji tanam di lahan dua hektare memberikan optimisme besar terhadap pengembangan komoditas tersebut.
“Produktivitasnya sekitar delapan ton per hektare. Jadi dari dua hektare total panennya hampir mencapai 16 ton. Ini hasil yang sangat menggembirakan,” ungkapnya.
Menurut Hidayatullah, keberhasilan ini tidak lepas dari sinergi seluruh pihak yang terlibat.
Kolaborasi antara kepolisian, pemerintah daerah, dan kelompok tani diharapkan menjadi model penguatan sektor pertanian yang dapat diterapkan di wilayah lain.
Ia juga menilai pengembangan benih bawang merah lokal memiliki arti penting bagi ketahanan pangan nasional.
Pasalnya, Indonesia hingga kini masih mengimpor bawang untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
“Ini kerja sama pertama antara Polres Ciamis, pemerintah daerah, dan kelompok tani untuk menciptakan benih bawang super. Mudah-mudahan dari langkah kecil di Ciamis ini bisa mendukung ketahanan pangan Indonesia. Harapannya nanti kita tidak lagi bergantung pada impor, bahkan mampu mengekspor bawang seperti komoditas jagung dan beras,” pungkasnya.














