Menariknya, perjalanan tersebut berlangsung selama 17 bulan.
Viko mengatakan kesamaan angka 17 itu bukan sesuatu yang direncanakan sejak awal.
“17 negara dan 17 bulan itu tidak direncanakan,” katanya.
Ia menyebut rute perjalanan membuat jumlah negara yang dilewati akhirnya mencapai 17.
Memilih Mengambil Sisi Positif
Perjalanan lintas negara tentu tidak selalu berjalan mulus. Viko mengakui ada pengalaman yang tidak mudah selama ekspedisi.
Namun, ia memilih tidak menjadikan pengalaman tersebut sebagai bagian utama dari ceritanya.
Menurut dia, setiap negara memiliki kelebihan dan kekurangan.
“Saya lebih mengambil sisi positifnya saja,” ujar Viko.
Ia justru melihat berbagai kesulitan sebagai bagian dari perjalanan.
Pengalaman tersebut membuatnya lebih banyak bersyukur sekaligus menjadi bekal untuk menghadapi tantangan berikutnya.
Kini, setelah kembali ke Rancah, Viko mulai memikirkan ekspedisi baru. Ia mengincar Masjid Al-Aqsa sebagai tujuan berikutnya.
Viko memperkirakan perjalanan tersebut baru dilakukan satu atau dua tahun mendatang.
Ia bahkan telah mulai mengatur rute dari Yordania hingga London, Inggris.
Ekspedisi panjang dari Rancah itu pun belum benar-benar selesai.
Setelah membawa nama Ciamis melewati 17 negara, Viko bersiap membuka perjalanan berikutnya dengan tujuan yang lebih jauh.














