banner 720x220
News  

Perang Melawan Narkoba Dimulai dari Desa, BNN dan Kesbangpol Ciamis Beri Edukasi Warga Nasol

Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Ciamis bersama Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Ciamis memberikan edukasi bahaya narkoba kepada masyarakat Desa Nasol, Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis. (Dok, foto. Kondusif.com)
Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Ciamis bersama Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Ciamis memberikan edukasi bahaya narkoba kepada masyarakat Desa Nasol, Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis. (Dok, foto. Kondusif.com)

CIAMIS,Kondusif.com,- Upaya melawan penyalahgunaan narkoba terus diperkuat hingga tingkat desa. Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Ciamis bersama Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Ciamis memberikan edukasi kepada masyarakat Desa Nasol, Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis, untuk meningkatkan kesadaran serta memperkuat pencegahan sejak dini.

Kegiatan sosialisasi pencegahan penyalahgunaan narkoba tersebut berlangsung di Aula Desa Nasol, Kamis (16/7/2026).

Melalui kegiatan itu, pemerintah mengajak masyarakat tidak hanya memahami bahaya narkoba.

Tetapi juga ikut terlibat aktif dalam memutus mata rantai penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.

Kegiatan tersebut menghadirkan dua pemateri, yakni Wijaya Dewabrata dari BNN Kabupaten Ciamis serta Wiji Subekti, SE., Kabid Ideologi, Wawasan Kebangsaan dan Ketahanan Ekososbudag Kesbangpol Kabupaten Ciamis.

Selain itu, kegiatan tersebut turut dihadiri Camat Cikoneng, Kepala Desa Nasol, BPD Desa Nasol, Pendamping Desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, Karang Taruna, serta unsur masyarakat lainnya.

Wijaya Dewabrata menyampaikan, perang melawan narkoba tidak cukup hanya dilakukan melalui penindakan hukum.

Menurutnya, pencegahan melalui edukasi dan keterlibatan masyarakat menjadi langkah penting untuk menekan angka penyalahgunaan narkotika.

“Perang melawan narkoba tidak cukup hanya mengandalkan penegakan hukum. Masyarakat harus memiliki pengetahuan dan daya tangkal agar mampu menolak penyalahgunaan narkoba,” ujar Wijaya.

Ia menjelaskan, BNN mengusung konsep War on Drugs for Humanity yang mengedepankan tiga pendekatan utama, yaitu supply reduction, demand reduction, dan harm reduction.

Melalui pendekatan tersebut, pemberantasan narkoba tidak hanya berfokus pada penangkapan pelaku maupun pemutusan jaringan peredaran gelap.

Namun, upaya tersebut juga menyasar peningkatan kesadaran masyarakat serta pemulihan bagi penyalahguna narkoba melalui program rehabilitasi.

Angka Penyalahgunaan Turun, Namun Ancaman Narkoba Masih Besar

Wijaya mengungkapkan, berdasarkan survei nasional, angka prevalensi penyalahgunaan narkoba mengalami penurunan.

Pada 2021, prevalensi penyalahgunaan narkoba tercatat sebesar 1,95 persen atau sekitar 3,6 juta jiwa.

Kemudian, angka tersebut turun menjadi 1,73 persen atau sekitar 3,3 juta jiwa pada 2023.

Meski mengalami penurunan, Wijaya menegaskan jumlah tersebut masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian bersama.

Sebab, jutaan masyarakat masih memiliki risiko terpapar penyalahgunaan narkotika.

“Angkanya memang turun, tetapi jumlahnya masih besar. Karena itu, semua pihak harus ikut mengambil peran dalam pencegahan,” katanya.

Lebih lanjut, ia menyebut kelompok usia produktif masih menjadi sasaran paling rentan.

Selain faktor individu, penyalahgunaan narkoba juga dipengaruhi kondisi keluarga, lingkungan pergaulan, hingga kemudahan akses terhadap zat adiktif.

Menurutnya, dampak narkoba tidak hanya merusak kesehatan seseorang.

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *