banner 720x220
News  

Pemkab Ciamis Minta Mahasiswa KKN INU Hadirkan Program yang Menjawab Kebutuhan Warga

Pelepasan Mahasiswa KKN-IK Institut Nahdatul Ulama (INU) Ciamis 2026. (Dok, foto. Fauza/kondusif.com)
Pelepasan Mahasiswa KKN-IK Institut Nahdatul Ulama (INU) Ciamis 2026. (Dok, foto. Fauza/kondusif.com)

CIAMIS,Kondusif.com,- Pemerintah Kabupaten Ciamis meminta mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata Terintegrasi Kompetensi (KKN-IK) Institut Nahdlatul Ulama (INU) Ciamis tidak menjadikan KKN sekadar kewajiban akademik.

Sebaliknya, mahasiswa didorong menghadirkan program yang benar-benar lahir dari kebutuhan masyarakat dan mampu memberikan dampak nyata di desa.

Pesan itu disampaikan Bupati Ciamis Herdiat Sunarya melalui Asisten Administrasi Umum (Asda III) Setda Ciamis, Wawan Ruhyat, saat menghadiri pelepasan mahasiswa peserta KKN-IK INU Ciamis Tahun 2026 di halaman Kantor PCNU Ciamis, Desa Dewasari, Kecamatan Cijeungjing, Senin (27/7/2026).

Dalam sambutannya, Wawan menyampaikan apresiasi kepada INU Ciamis yang secara konsisten menyelenggarakan KKN sebagai bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam pengabdian kepada masyarakat.

Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan.

Lebih dari itu, kampus juga menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendorong pembangunan masyarakat yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera.

“Kegiatan ini merupakan wujud nyata bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendorong pembangunan masyarakat yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera,” ujarnya.

KKN Bukan Sekadar Syarat Kelulusan

Wawan menegaskan, KKN tidak boleh dipandang hanya sebagai agenda akademik untuk memenuhi persyaratan kelulusan.

Sebaliknya, kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa untuk mengenal kehidupan masyarakat.

Ia menjelaskan, selama berada di lokasi KKN, mahasiswa akan berhadapan dengan beragam karakter, persoalan sosial, hingga dinamika kehidupan yang tidak ditemukan di ruang perkuliahan.

Karena itu, mahasiswa perlu mengasah kemampuan berkomunikasi, membangun kepemimpinan, sekaligus menumbuhkan empati terhadap masyarakat.

“Di ruang kuliah, ilmu diperoleh dari buku dan dosen. Namun di tengah masyarakat, ilmu akan diuji oleh realitas kehidupan,” katanya.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual.

Mahasiswa juga harus mampu berkolaborasi, mendengarkan aspirasi warga, menghargai perbedaan, dan menghadirkan solusi yang dapat diterima masyarakat.

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *