Beberapa warga bahkan menanam sayuran dan buah seperti kangkung, bayam, pepaya, dan terong.
“Dulu tiap hari beli cabai dan tomat, sekarang tinggal petik di halaman,” kata Dadi.
Efek domino pun terjadi. Masyarakat bukan hanya hemat, tetapi juga mendapat penghasilan tambahan dari hasil panen. Sebagian menjual ke pasar atau ke tetangga sekitar.
Masyarakat Tak Lagi Bergantung
Program ini bukan hanya soal menanam, tapi soal perubahan pola pikir.
Dengan mendekatkan produksi pangan ke rumah sendiri, masyarakat didorong untuk tidak terlalu bergantung pada pasar atau bahkan bantuan pemerintah.
“Ini bukan proses satu malam. Dari 2021 sampai sekarang baru 70 persen rumah yang aktif. Tapi itu sudah luar biasa. Pemberdayaan itu butuh waktu,” ujar Dadi.
Pemerintah desa juga terus mendorong, bukan dengan paksaan, tetapi dengan pendampingan.
“Penyuluh pertanian, kader PKK, LKD, dan KWT menjadi garda terdepan dalam membina dan mengawasi jalannya program ini,” jelasnya.
Mimpi Menjadi Sentra Pangan Lokal
Kepala Desa Dadi menyebutkan bahwa ke depan, Desa Jalatrang ingin dikenal bukan hanya sebagai desa yang mandiri secara pangan, tapi juga sebagai sentra bawang merah di Kabupaten Ciamis.
Meskipun belum memiliki hamparan lahan besar, tetapi melalui pengelolaan pekarangan yang kolektif, potensi itu sangat mungkin dicapai.
“Kami mulai dari pekarangan, dari hal kecil. Tanah kita subur, tinggal kemauan yang harus dibangkitkan,” katanya penuh semangat.
Ketahanan Pangan Dimulai dari Rumah
Program ketahanan pangan Desa Jalatrang menjadi bukti bahwa kemandirian bisa dibangun dari bawah.
Ketika masyarakat mampu memproduksi sebagian besar kebutuhannya sendiri, mereka tidak hanya hemat, tetapi juga kuat.
Dengan pendekatan berbasis data, pendidikan, dan kolaborasi, Desa Jalatrang telah membuktikan bahwa pekarangan bukan ruang mati, tetapi sumber kehidupan dan ketahanan ekonomi.














