Ciamis,Kondusif.com,- Media massa bukan sekadar sarana publikasi, melainkan jembatan krusial yang menentukan citra kepolisian di mata publik. Hal ini mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Model Implementasi Kebijakan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas)” yang digelar di Aula Pesat Gatra Polres Ciamis, Senin (27/4/2026).
Acara yang diinisiasi oleh AKBP Akmal, mahasiswa Universitas Pasundan, ini merupakan bagian dari penyusunan disertasi Program S3 Doktor Ilmu Sosial Universitas Pasundan Bandung.
Dalam forum tersebut, Muhamad Rifai yang hadir sebagai insan pers melontarkan serangkaian pertanyaan tajam mengenai bagaimana model Kamtibmas ini dapat menjadikan media sebagai mitra strategis.
Bukan hanya penyambung informasi, serta menjamin keterbukaan informasi dan membangun kepercayaan publik.
Media sebagai ‘Penerjemah’ Bahasa Polisi
Menanggapi hal tersebut, AKBP Akmal menegaskan bahwa media memegang peran yang sangat strategis.
Ia mengakui bahwa tanpa bantuan media, banyak kegiatan positif kepolisian yang tidak akan tersampaikan kepada masyarakat secara luas.
”Media menjadi jembatan informasi bagi kami. Jangkauan kami terbatas, namun dengan bantuan media melalui berbagai platform, mulai dari TikTok hingga media daring, program kepolisian bisa tersampaikan dengan bahasa yang lebih mudah dipahami,” ujar AKBP Akmal.
Ia tidak menampik bahwa bahasa instruksi di kepolisian terkadang terasa kaku.
Padahal, setiap anggota Polri dari pangkat terendah hingga tertinggi pada hakikatnya adalah pelaksana fungsi hubungan masyarakat (Humas).
Oleh karena itu, kehadiran media sangat membantu memublikasikan kegiatan di tingkat Polsek yang mungkin sebelumnya tidak terdengar oleh publik.
Ampuh Redam Hoaks dan Konflik Sosial
Lebih jauh, AKBP Akmal membeberkan betapa vitalnya peran media dalam mengantisipasi hoaks yang berpotensi mengganggu Kamtibmas.
Ia juga menceritakan sebuah insiden pelemparan batu terhadap tokoh pesantren yang sempat diisukan dilakukan oleh geng motor.














