Ciamis,kondusif.com,– Jauh sebelum meraih Juara Nasional Lomba Pekarangan Pangan Bergizi (P2B) dari Mabes Polri, program ketahanan pangan Desa Jalatrang sudah dirintis sejak tahun 2021.
Program ini bukan sekadar untuk mengejar penghargaan, melainkan hasil dari keresahan terhadap tingginya pengeluaran rumah tangga hanya untuk kebutuhan dapur sehari-hari.
Kepala Desa Jalatrang, Dadi Haryadi, mengungkapkan bahwa langkah awalnya dimulai dari survei lapangan.
“Dari seribu rumah yang kami survei, pengeluaran masyarakat hanya untuk cabai rawit, bawang merah, dan tomat bisa mencapai Rp72 juta per bulan. Ini angka yang luar biasa,” ujar Dadi dalam wawancara, Jumat (25/7/2025).
Temuan itu membuka mata pemerintah desa. Jika kebutuhan dasar dapur bisa dipenuhi dari pekarangan sendiri, pengeluaran rumah tangga akan menurun, dan ekonomi keluarga menjadi lebih aman.
Dari Data Menjadi Aksi
Tidak berhenti pada survei, Pemerintah Desa Jalatrang langsung menyusun strategi.
Mulai tahun 2021 hingga 2022, sebanyak 20 persen Dana Desa dialokasikan khusus untuk mendukung program ketahanan pangan rumah tangga.
Langkah strategis pertama adalah peningkatan kapasitas warga melalui Sekolah Lapang Pertanian.
Kegiatan ini diikuti oleh kelompok-kelompok masyarakat yang terdiri dari 15 orang, dengan delapan kali pertemuan. Narasumbernya berasal langsung dari Dinas Pertanian.
“Dari Sekolah Lapang ini, kami mulai membentuk KWT (Kelompok Wanita Tani) di setiap dusun,” terang Dadi. “KWT bukan hanya simbol, tapi benar-benar menjadi pelaksana utama di lapangan.”
KWT bertugas mengedukasi dan mengajak warga untuk mengubah kebiasaan: dari membeli menjadi menanam.
Tidak perlu lahan luas cukup dengan pekarangan rumah, bahkan menggunakan pot, karung, atau barang bekas yang bisa diolah.
Tanam Sendiri, Hemat Sendiri
Kini, sekitar 60–70 persen dari total 1.870 rumah di Desa Jalatrang telah aktif memanfaatkan pekarangan.
Komoditas utama yang ditanam meliputi cabai, tomat, dan bawang merah.














