Selanjutnya, peserta mengikuti pemaparan sejarah Tradisi Ngabungbang di Jambansari. Dalam sesi tersebut dibahas perjalanan tradisi pada masa R.A.A. Koesoemadiningrat sekaligus posisi Jambansari sebagai salah satu pusat sejarah penting di wilayah Galuh.
Diskusi tersebut diharapkan mampu mempertemukan berbagai perspektif, mulai dari sejarah, tradisi lisan, hingga upaya pelestarian budaya di tengah perubahan zaman.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mengetahui tradisi ini sebagai sebuah kegiatan tahunan, tetapi juga memahami akar sejarah yang melatarbelakanginya.
Dalam berbagai catatan dan cerita yang berkembang di masyarakat, malam 14 Maulud memang memiliki posisi khusus.
Pada malam itu, masyarakat biasanya berkumpul di kawasan Jambansari untuk berdoa, bersilaturahmi, serta mengenang jasa Kanjeng Prebu.
Namun seiring perkembangan zaman, pelaksanaan tradisi tersebut mengalami perubahan.
Karena itulah, Yayasan Koesoemadiningrat memandang perlu menghadirkan kembali pemahaman sejarah agar makna Ngabungbang tidak bergeser dari konteks budaya yang sebenarnya.
Diharapkan Jadi Pusat Edukasi Budaya
Melalui kegiatan ini, Yayasan Koesoemadiningrat berharap masyarakat semakin memahami nilai-nilai yang terkandung dalam Tradisi Ngabungbang.
Nilai tersebut meliputi penghormatan kepada leluhur, edukasi sejarah, pelestarian budaya, penguatan kebersamaan, hingga tanggung jawab menjaga identitas budaya Galuh.
Selain menjadi ruang diskusi, kegiatan ini juga diharapkan menjadi langkah awal menjadikan Situs Jambansari sebagai pusat edukasi sejarah dan kebudayaan yang terbuka bagi masyarakat, akademisi, pelajar, mahasiswa, komunitas seni, hingga para pemerhati budaya.
Yayasan Koesoemadiningrat pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut serta ngamumule atau merawat warisan Kanjeng Prebu.
Dengan menjaga tradisi tetap hidup, nilai-nilai budaya yang telah diwariskan lintas generasi diharapkan terus bertahan dan menjadi bagian dari identitas masyarakat Tatar Galuh.














