Eksploitasi air tanah, hingga kerusakan kawasan hutan turut memperparah kondisi tersebut.
Karena itu, berbagai perangkat daerah mulai memperkuat langkah penanganan.
Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan membangun serta merehabilitasi sarana irigasi, embung, sumur bor.
Pompanisasi, dan penampungan air hujan sebanyak 141 unit yang mencakup lahan seluas 2.111,61 hektare.
Sementara itu, Dinas PUPRTLH memperkuat jaringan irigasi melalui rehabilitasi dan pembangunan jaringan irigasi air tanah.
Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy juga akan memperbaiki Sungai Cikunten guna meningkatkan pasokan air irigasi di Kecamatan Manonjaya.
Di sektor kesehatan, Dinas Kesehatan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare selama musim kemarau. Cadangan air bersih juga telah disiapkan di sejumlah puskesmas.
Libatkan Dunia Usaha dan Masyarakat
Penanganan kekeringan turut melibatkan berbagai pihak.
Daarut Tauhid Peduli, PT Hini Daiki Indonesia melalui program CSR, Perumda Air Minum Tirta Sukapura, BPR Artha Galunggung, Perum Perhutani.
Serta Forum Camat Kabupaten Tasikmalaya menyatakan komitmennya membantu penyediaan air bersih, menjaga kawasan hutan.
Sekaligus mengedukasi masyarakat agar menggunakan air secara hemat.
Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya menegaskan bahwa kolaborasi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk menekan dampak kekeringan dan potensi kebakaran hutan maupun lahan selama musim kemarau 2026.














