Selain itu, ia juga menyoroti sifat serakah yang mendorong seseorang menyalahgunakan jabatan demi memperkaya diri, padahal seluruh harta dunia pada akhirnya akan ditinggalkan.
“Perkuat keimanan kepada Allah dan keyakinan kepada hari akhir. Semua nikmat yang Allah berikan akan dimintai pertanggungjawaban,” ucapnya.
Ia kemudian mencontohkan bahwa Islam telah mengatur sanksi bagi berbagai tindak kejahatan sebagai bentuk pencegahan sekaligus memberikan efek jera.
Menurutnya, tujuan utama dari ketentuan tersebut adalah menciptakan rasa tanggung jawab dan mencegah masyarakat mengulangi perbuatan yang sama.
KH Saepul Ujun menambahkan, pemimpin yang menyadari besarnya tanggung jawab di hadapan Allah akan lebih berhati-hati.
Dalam menjalankan amanah serta menghindari penyalahgunaan wewenang.
Doakan Pemimpin Diberi Hidayah
Di akhir wawancara, KH Saepul Ujun menyampaikan doa agar para pemimpin bangsa memperoleh hidayah dan petunjuk dalam menjalankan amanah.
Ia berharap seluruh pemimpin, baik formal maupun nonformal, menyadari bahwa kepemimpinan merupakan bentuk pelayanan kepada masyarakat, bukan sarana mencari keuntungan pribadi.
“Semoga Allah memberikan hidayah kepada para pemegang kekuasaan agar berjalan di jalan yang benar, menyadari bahwa pemimpin adalah pelayan umat, pelayan masyarakat, dan pelayan bangsa,” ujarnya.
Menurutnya, bangsa akan lebih mudah mewujudkan kehidupan yang aman, tenteram, dan sejahtera.
Apabila para pemimpinnya memiliki keimanan, ketakwaan, serta integritas dalam menjalankan amanah.
Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa masyarakat akan sulit merasakan kemakmuran.
Apabila para pemimpinnya tidak memiliki moral dan ketakwaan yang kuat.
“Ketika pemimpin-pemimpinnya saleh, beriman, dan bertakwa, maka masyarakat akan hidup aman dan tenteram. Semoga Indonesia menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” tutupnya.














