banner 720x220

Kampung Adat Kuta Ciamis Disiapkan Jadi Destinasi Wellness Tourism

Perwakilan Unsiba Bandung saat menyerahkan hasil rencana wellness tourism di Kampung Adat Kuta Ciamis. (Dok, foto. Kondusif.com)
Perwakilan Unsiba Bandung saat menyerahkan hasil rencana wellness tourism di Kampung Adat Kuta Ciamis. (Dok, foto. Kondusif.com)

CIAMIS,Kondusif.com,- Kampung Adat Kuta di Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, tidak hanya menawarkan ritual adat dan lanskap perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah. Kawasan ini juga mulai diproyeksikan menjadi destinasi wellness tourism atau wisata kebugaran yang memadukan alam, kesehatan, dan kearifan lokal.

Gagasan tersebut datang dari Universitas Islam Bandung (Unisba).

Dalam kegiatan ritual adat Nyuguh di Kampung Adat Kuta, perwakilan Unisba memperkenalkan rancangan pengembangan kawasan wisata berbasis wellness.

Konsep itu merupakan hasil pengembangan riset mahasiswa yang kemudian diterjemahkan menjadi rancangan kawasan.

Tim Unisba membayangkan Kampung Kuta memiliki objek wisata yang tidak sekadar mengandalkan pemandangan alam.

Tetapi juga menawarkan pengalaman yang berkaitan dengan kebugaran dan ketenangan.

“Harapannya bisa menjadi desa wisata. Kampung Kuta sudah punya objek wisata yang berbasis pada wellness,” kata perwakilan Unisba.

Rancangan tersebut mengambil inspirasi dari konsep Galuh, termasuk filosofi kembang cakra Rande Kencana.

Konsep budaya itu kemudian diterjemahkan ke dalam desain tapak yang direncanakan berada di kawasan Rancabogo.

Luas kawasan yang dirancang mencapai sekitar tiga hektare.

Menurut tim Unisba, rancangan tersebut masih menjadi gambaran awal.

Namun, mereka berharap konsep itu dapat diterapkan secara bertahap apabila mendapat dukungan dan tetap sesuai dengan karakter serta kearifan lokal Kampung Adat Kuta.

Wisata Alam Tetap Berpijak pada Kearifan Lokal

Wakil Ketua Adat sekaligus Kepala Dusun Kuta, Didi Sardi, mengatakan kawasan Rancabogo memang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai lokasi wisata alam.

Di kawasan tersebut terdapat sejumlah situs dan bentang alam yang dapat menjadi daya tarik.

Salah satu gagasan yang muncul ialah membuat jalur tracking yang menghubungkan potensi alam di kawasan tersebut.

“Direncanakan kalau tidak bertentangan dengan kearifan lokal di sini, mau dijadikan lokasi tracking, pokoknya wisata alam,” ujar Didi.

Namun, ia menegaskan pengembangan wisata tidak boleh mengabaikan aturan adat yang selama ini berlaku.

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *