Dalam konteks itulah peran PKK menjadi penting.
Jaringan kader memungkinkan program pemerintah menjangkau masyarakat hingga tingkat paling bawah.
Ketua TP PKK Kabupaten Ciamis Hj. Kania Ernawati Herdiat mengatakan HKG ke-54 seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi pelaksanaan 10 Program Pokok PKK.
Evaluasi, menurut Kania, diperlukan agar kegiatan PKK tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan.
Program harus memiliki dampak dan menjawab kebutuhan keluarga.
“HKG bukan hanya agenda tahunan, tetapi menjadi pengingat akan jati diri PKK sebagai gerakan yang tumbuh dan bergerak bersama keluarga Indonesia,” kata Kania.
Ia mengatakan PKK harus terus mengarahkan kegiatannya pada persoalan konkret yang dihadapi masyarakat.
Kesehatan, pendidikan, sosial, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat menjadi sejumlah bidang yang perlu mendapat perhatian.
Dengan begitu, 10 Program Pokok PKK tidak berhenti sebagai daftar program organisasi.
Pelaksanaannya harus terlihat dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
Bantuan Sosial di Tengah Perayaan
Pemberian 156 kacamata kepada pelajar dan santunan kepada empat kader menjadi bagian paling konkret dari rangkaian HKG PKK ke-54 di Ciamis.
Bantuan kacamata menyasar siswa SD, SMP, dan SMA.
Sementara itu, santunan BPJS Ketenagakerjaan diberikan kepada dua kader PKK dan dua kader Posyandu.
Dua bentuk bantuan tersebut menyasar kelompok berbeda.
Pelajar mendapat dukungan untuk kebutuhan penglihatan dalam proses belajar, sedangkan kader memperoleh manfaat dari program perlindungan sosial ketenagakerjaan.
Rangkaian acara kemudian dilengkapi penampilan kabaret dan paduan suara yang dibawakan kader PKK.
Namun, perayaan tersebut pada akhirnya kembali pada pertanyaan yang lebih sederhana: sejauh mana kegiatan PKK memberikan manfaat kepada warga?
Bagi Kania, keberadaan PKK harus bisa menjawab kebutuhan nyata keluarga.
Karena itu, kegiatan organisasi tidak cukup hanya berlangsung dalam forum pertemuan atau agenda tahunan.
HKG ke-54 setidaknya memperlihatkan dua wajah PKK.
Di satu sisi, organisasi itu tetap merawat tradisi perayaan dan kebersamaan kader.
Di sisi lain, ia mencoba menghubungkan momentum tersebut dengan kebutuhan warga melalui aksi sosial.
Pada usia 54 tahun, tantangan PKK bukan sekadar menjaga keberlangsungan organisasi.
Tantangannya adalah memastikan jaringan kader yang tersebar hingga desa dan keluarga tetap relevan menghadapi persoalan masyarakat.
Sebab, di luar panggung perayaan, pekerjaan kader terus berlangsung.
Mereka berhadapan dengan keluarga, anak-anak, persoalan kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan berbagai kebutuhan warga lainnya.
Di sanalah ukuran keberhasilan program PKK sesungguhnya berada: bukan pada meriahnya acara, melainkan pada seberapa jauh kerja kader mengubah kehidupan masyarakat yang mereka layani.














