banner 720x220

Harapan Seorang Ayah di Balik Gerobak Cuanki yang Masih Menyala hingga Dini Hari

Wanto, penjual Cuanki keliling asal Garut yang mengais rezeki di Ciamis. (Dok, foto. Kondusif.com)
Wanto, penjual Cuanki keliling asal Garut yang mengais rezeki di Ciamis. (Dok, foto. Kondusif.com)

Sementara itu, anak bungsunya baru saja lulus dari SMK dan sedang bersiap menapaki kehidupan baru.

Meski anak sulungnya telah memiliki rumah tangga sendiri, Wanto merasa tugas seorang ayah tidak pernah benar-benar selesai.

Ia masih ingin membantu anak-anaknya semampunya.

Ia juga ingin memastikan istrinya di rumah tetap memiliki cukup untuk menjalani hari-hari.

Karena itulah, rasa lelah bukan alasan baginya untuk berhenti lebih cepat.

Ketika banyak orang sudah berkumpul bersama keluarga di malam hari, Wanto justru masih mendorong gerobaknya menyusuri jalanan Ciamis.

Baginya, setiap mangkuk cuanki yang terjual adalah tambahan harapan.

Di tengah perjuangan itu, Wanto juga pernah merasakan pahitnya menjadi korban penipuan.

Ia sempat menerima pembayaran menggunakan QRIS agar transaksi lebih mudah.

Namun, seorang pelanggan mengaku telah membayar setelah menikmati sekitar 15 mangkuk cuanki.

Setelah diperiksa, uang tersebut ternyata tidak pernah masuk ke rekeningnya.

“Katanya sudah bayar pakai QRIS, ternyata belum masuk. Sejak itu saya tidak pakai lagi,” ujarnya.

Meski keadaan belum berpihak, Wanto belum menyerah.

Ia menyimpan impian sederhana, yakni memiliki usaha cuanki sendiri sehingga tidak lagi bergantung pada sistem bagi hasil.

Namun, keterbatasan modal membuat cita-cita itu masih harus ia tunda.

“Kalau ada modal, saya ingin buka usaha cuanki sendiri,” katanya.

Sebelum berpisah, Wanto menyampaikan harapan yang sederhana.

Ia tidak meminta bantuan ataupun belas kasihan.

Ia hanya berharap roda ekonomi kembali berputar seperti dulu sehingga pedagang kecil bisa kembali merasakan ramainya pembeli.

“Semoga ekonomi Indonesia bisa pulih seperti dulu lagi, supaya pedagang kecil juga bisa lebih sejahtera,” ujarnya.

Malam terus berjalan. Jarum jam perlahan mendekati pukul satu dini hari.

Angin dingin berembus pelan di sepanjang jalan yang mulai kosong.

Wanto masih berdiri di samping gerobaknya.

Ia tahu, mungkin hanya tinggal satu atau dua orang lagi yang akan lewat malam itu.

Namun, sebagai seorang ayah, ia memilih menunggu lebih lama daripada pulang lebih cepat.

Sebab, bagi Wanto, setiap mangkuk cuanki yang terjual bukan sekadar menambah penghasilan.

Di dalamnya ada ongkos untuk pulang menemui keluarga, ada harapan untuk anak bungsunya yang baru lulus sekolah, ada doa bagi anak keduanya yang sedang merantau, dan ada kasih seorang ayah yang tak pernah berhenti bekerja, bahkan ketika sebagian besar orang telah terlelap.

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *