banner 720x220

Empat Dekade Yayasan Borosngora dan Ikhtiar Menjaga Warisan Leluhur Panjalu

Keterangan foto: Ketua Panitia Nyangku 2026 sekaligus mewakili Yayasan Borosngora, Prof. Dr. H. Djohan Rochanda Wiradinata. (Dok, foto. Fauza Khodir/Kondusif.com)
Keterangan foto: Ketua Panitia Nyangku 2026 sekaligus mewakili Yayasan Borosngora, Prof. Dr. H. Djohan Rochanda Wiradinata. (Dok, foto. Fauza Khodir/Kondusif.com)

Menurut Djohan, nilai tersebut tetap relevan untuk diwariskan di tengah perkembangan teknologi dan perubahan zaman.

 

“Nyangku sebagai salah satu upaya untuk menjaga, merawat, dan menumbuhkembangkan nilai-nilai kearifan lokal dan kesalehan sosial di tengah-tengah masyarakat di era digitalisasi, perkembangan zaman, dan kemajuan iptek ini,” ujarnya.

 

Selain menjaga tradisi, Yayasan Borosngora juga mengaitkan Nyangku dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Bulan Rabiulawal menjadi momentum bagi masyarakat untuk mengenang kelahiran Nabi sekaligus meneladani ajaran dan akhlaknya.

 

Peringatan Maulid tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Nyangku setiap tahun. Dengan demikian, kegiatan budaya di Panjalu berjalan berdampingan dengan penguatan nilai-nilai keislaman.

 

Nyangku Menjadi Warisan Budaya Takbenda

 

Upaya menjaga tradisi tersebut juga mendapat pengakuan di tingkat nasional. Bupati Ciamis Herdiat Sunarya mengatakan Tradisi Nyangku telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia pada 2017 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

 

Menurut Herdiat, penetapan tersebut menunjukkan bahwa Nyangku tidak hanya menjadi warisan masyarakat Panjalu dan Kabupaten Ciamis, tetapi juga bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

 

“Tradisi Nyangku merupakan warisan budaya leluhur kita sekaligus sarana merawat kearifan lokal, memperteguh jati diri budaya daerah, dan mempererat silaturahmi antarwarga,” kata Herdiat.

 

Karena itu, ia mengapresiasi panitia dan seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan Nyangku 2026.

 

Herdiat mengatakan kegiatan tersebut dapat berlangsung dengan aman dan lancar. Ia juga menilai keterlibatan masyarakat menunjukkan peran serta dan semangat gotong royong dalam menjaga tradisi daerah.

 

Dari Warisan Budaya hingga Potensi Wisata

 

Selain mempertahankan tradisi, keberadaan Nyangku juga berkaitan dengan potensi pengembangan wisata budaya dan religi di Panjalu.

 

Djohan mengatakan Panjalu memiliki latar belakang sejarah, sosial, budaya, dan lingkungan yang mendukung pengembangan kepariwisataan. Sejumlah lokasi di Panjalu juga menjadi tujuan masyarakat untuk berziarah maupun mengenal sejarah leluhur.

 

Karena itu, Panjalu memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata ziarah, wisata budaya, dan wisata belanja.

 

Dalam pelaksanaan Nyangku 2026, masyarakat tidak hanya mengikuti prosesi adat. Mereka juga menyaksikan pedaran sejarah Panjalu yang disampaikan Rd. Agus Gusnawan Cakradinata.

 

Pedaran sejarah tersebut menjadi bagian dari rangkaian acara untuk mengenalkan kembali perjalanan sejarah Panjalu kepada masyarakat.

 

Dengan demikian, 43 tahun perjalanan Yayasan Borosngora menjadi bagian dari upaya menjaga warisan yang tidak hanya berupa benda pusaka, tetapi juga sejarah, tradisi, falsafah, dan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat Panjalu.

 

Tradisi Nyangku yang kembali digelar pada 2026 menjadi salah satu ruang bagi warisan tersebut untuk terus diperkenalkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.***

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *