Pekikan takbir dan selawat yang menggemas dari atas bak-bak terbuka itu mendadak semakin riuh tatkala roda-roda kendaraan mereka mulai memasuki pelataran utama Gedung Islamic Center.
Bukan tanpa alasan kemeriahan itu mendidih. Tepat di teras gedung yang megah dengan pilar-pilar putih tinggi menjulang, telah duduk Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya.
Tidak sendirian, ia didampingi langsung oleh jajaran lengkap Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Ciamis, yang kompak mengenakan pakaian putih dan batik.
Alih-alih menunggu secara formal di dalam ruangan ber-AC, Bupati Herdiat memilih berdiri tegap di bibir tangga podium, tepat di hadapan pengeras suara besar yang berdentum.
Begitu armada pikap DTA Hidayatul Amal dan truk-truk kuning bermuatan santri melintas perlahan di depannya, Bupati Herdiat langsung mengangkat tangan, melambaikan telapak tangannya dengan senyum lebar yang sangat hangat.
Sontak, perlakuan spontan dari orang nomor satu di Ciamis ini memicu respons histeris yang penuh suka cita.

Anak-anak santri yang berada di atas bak terbuka langsung berdiri lebih tinggi.
Menjulurkan tangan mereka ke udara, dan membalas lambaian tangan sang bupati dengan penuh semangat.
Ada kedekatan yang terasa begitu intim dan tanpa sekat dalam momentum beberapa detik tersebut.
Merajut Silaturahmi di Bumi Galuh
Selepas melewati panggung penghormatan dan mendapat sambutan hangat dari jajaran bupati, petugas gabungan yang berjaga di lokasi dengan sigap mengarahkan laju kendaraan.
Satu per satu rombongan dipandu untuk menurunkan penumpang dengan tertib.
Sebelum akhirnya para santri diarahkan berjalan kaki memasuki lambung Gedung Islamic Center Ciamis untuk memulai prosesi acara inti.
Kegiatan kolosal ini sejatinya bukan sekadar agenda seremonial tahunan untuk memutar kalender Islam.
Bagi DPC-FKDT Ciamis, berkumpulnya ribuan madrasah diniyah dari pelosok kecamatan ini adalah momentum krusial untuk meneguhkan kembali komitmen pendidikan karakter sejak dini.
Hingga berita ini diturunkan, riuh rendah suara anak-anak santri masih menggema di dalam gedung.
Mereka membawa pulang tidak hanya pengalaman menaiki bak terbuka melintasi kota.
Tetapi juga memori indah tentang bagaimana tahun baru Islam disambut dengan cara yang paling terhormat, paling meriah, dan paling membahagiakan di tanah kelahiran mereka.














