Ciamis,Kondusif.com,- Matahari belum begitu tinggi di atas langit Bumi Galuh, namun aspal di sepanjang jalur menuju Gedung KH. Irfan Hielmy Islamic Center Kabupaten Ciamis sudah mulai menghangat. Selasa pagi (16/6/2026), tepat pukul 08.00 WIB, keheningan kota seketika pecah oleh sayup-sayup lantunan selawat badar yang beradu dengan deru mesin kendaraan.
Hari itu, ribuan santri menolak untuk sekadar duduk diam di dalam ruang kelas. Di bawah komando Dewan Pengurus Cabang Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (DPC-FKDT) Kabupaten Ciamis, mereka tumpah ruah ke jalanan, bergerak serentak dari berbagai penjuru kecamatan demi satu tujuan: merayakan Semarak Tahun Baru Hijriah 1448 H.
Pantauan di lokasi menunjukkan pemandangan yang tidak biasa sekaligus menyentuh hati.

Gelombang antusiasme massa datang mengalir tanpa putus, menciptakan barisan barikade kebahagiaan yang mengular panjang di sepanjang gerbang masuk Islamic Center.
Senyum di Atas Bak Terbuka, Tanpa Jarak Tanpa Batas
Ada pemandangan menarik yang terekam kamera sepanjang perhelatan ini.
Alih-alih menggunakan bus pariwisata yang mewah dan ber-AC.
Mayoritas rombongan santri ini justru datang menumpangi kendaraan-kendaraan sederhana.
Mulai dari barisan sepeda motor, mobil bak terbuka (pikap), hingga truk-truk besar berukuran kuning menyala.
Di atas bak terbuka itulah, cerita-cerita kecil tentang kebersamaan ditulis.

Terik matahari pagi yang mulai menyengat kulit sama sekali tidak mampu melunturkan binar di mata mereka.
Sebaliknya, raut muka bahagia justru terpancar jelas dari setiap rombongan yang datang.
Sembari mencengkeram erat besi pembatas bak truk agar tetap seimbang.
Anak-anak santri dengan pakaian muslim serba putih ini terus melempar senyum ke arah warga di pinggir jalan.
Tampak sebuah mobil pikap hitam melaju percaya diri paling depan.
Di bagian moncongnya, terbentang spanduk kain berwarna hijau mentereng dengan tulisan kuning yang mencolok: Madrasah DTA “Hidayatul Amal”, Dusun Ciwalung, Desa Baregbeg.
Di atas baknya, belasan santriwati berkerudung putih duduk berhimpitan.
Sesekali merapikan jilbab mereka yang berkibar diterpa angin jalanan, sembari tertawa lepas bersama sang guru.
Saat Sang Pemimpin Menyambut Rakyatnya















