banner 720x220

Desa Wisata Jalatrang dan Gunungsari Jadi Wakil Jabar di Wonderful Indonesia Awards 2026

Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis, Dian Kusdiana. (Dok, foto. Istimewa)
Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis, Dian Kusdiana. (Dok, foto. Istimewa)

Menurut dia, yang jauh lebih penting adalah memastikan masyarakat lokal ikut bergerak dan mendapatkan manfaat dari aktivitas pariwisata.

Dian menyebut salah satu tantangan terbesar dalam mengembangkan desa wisata adalah membangun community-based tourism atau pariwisata berbasis masyarakat.

“Yang paling berat itu bagaimana lokal di lokasi itu bisa bergerak. Harus ada komunitas yang bisa bergerak secara swadaya untuk mengembangkan potensi pariwisata dan daya tarik,” katanya.

Tanpa komunitas lokal yang kuat, pengembangan desa wisata dinilai akan sulit berjalan secara berkelanjutan.

Sebab, masyarakat tidak cukup hanya melihat sektor wisata dari sisi pendapatan.

Mereka juga perlu memiliki kepedulian untuk menjaga, mengelola, sekaligus mengembangkan potensi yang ada di lingkungannya.

“Kalau mengembangkan desa wisata tanpa ada komunitas lokal yang kuat, yang ingin bergerak, dan tidak hanya berorientasi pada pendapatan, kita akan berat,” ucap Dian.

Karena itu, Dispar Ciamis kini memprioritaskan desa yang sudah memiliki komunitas lokal dan potensi penggerak wisata.

Belajar dari Desa Wisata Kemiren

Dian mengatakan pola kolaborasi menjadi salah satu faktor penting yang dapat menentukan keberlanjutan sebuah desa wisata.

Dia bahkan membandingkan pengelolaan desa wisata di Ciamis dengan Desa Wisata Kemiren di Banyuwangi.

Beberapa waktu lalu, Dian mengunjungi Desa Wisata Kemiren.

Menurutnya, dari sisi pengelolaan, Ciamis sebenarnya tidak kalah.

Namun, ada satu hal yang menurutnya menjadi kekuatan Kemiren, yakni keterlibatan berbagai stakeholder yang bergerak bersama untuk memajukan desa wisata.

“Kalau saya lihat, kita tidak kalah pengelolaannya dengan Kemiren di Kabupaten Banyuwangi. Tetapi di sana pola kolaboratifnya, semua elemen stakeholder itu bisa bergerak, memajukan, mendukung dan men-support kegiatan-kegiatan yang ada,” ujarnya.

Dian mencontohkan keterlibatan Bank Indonesia dalam mendukung sejumlah desa wisata di Ciamis.

Intervensi tersebut, kata dia, telah menyentuh sejumlah desa, termasuk Gunungsari, Jalatrang, Cibeureum, Kawali dan Selamanik.

Pola tersebut diharapkan bisa terus diperluas sehingga semakin banyak desa wisata di Ciamis yang mampu berkembang secara mandiri.

“Ajang ini membuktikan bahwa kita tidak kalah bersaing dengan desa-desa lain yang ada di Jawa Barat atau bahkan di luar Jawa Barat,” katanya.

Dengan masuknya Jalatrang dan Gunungsari ke 10 besar SWJ-ITDMA 2026, Ciamis kini memiliki dua wakil untuk bersaing di panggung nasional WIA 2026.

Dinas Pariwisata Ciamis pun berharap capaian tersebut tidak berhenti sebagai penghargaan, tetapi menjadi pemantik agar semakin banyak desa membangun pariwisata dari potensi lokal dan kekuatan masyarakatnya.

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *