Ia menggambarkan bendera Merah Putih yang dibawanya sebagai simbol persaudaraan.
Ketika memasuki negara lain, ia menyandingkan bendera Indonesia dengan bendera negara tersebut.
Dengan cara itu, Viko ingin menunjukkan bahwa perjalanan lintas negara tidak hanya berbicara tentang jarak.
Ada pula perjumpaan antarmanusia yang menurutnya jauh lebih penting.
Ciamis di Tengah Perjalanan
Perjalanan Viko juga mempertemukannya dengan sejumlah media asing.
Ia menyebut beberapa televisi dan media internasional sempat mewawancarainya.
Salah satu momen yang ia ceritakan terjadi di Turki.
Viko mengaku berkesempatan bertemu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melalui undangan Wali Kota Şile, Istanbul.
Pengalaman tersebut kemudian memperluas ruang Viko untuk menceritakan perjalanan dari Rancah.
Ia tidak hanya berbicara tentang ekspedisinya, tetapi juga membawa cerita tentang daerah asalnya.
Bagi Viko, perjalanan itu menjadi kesempatan untuk memperkenalkan Ciamis kepada dunia.
Kini, setelah kembali ke kampung halaman, perjalanan tersebut belum sepenuhnya menjadi akhir. Viko mulai menyiapkan ekspedisi berikutnya menuju Al-Aqsa.
Ia memperkirakan perjalanan baru itu akan dimulai satu atau dua tahun mendatang. Rutenya telah mulai disusun, dari Yordania hingga London, Inggris.
Dengan begitu, ransel yang sempat membawa nama Ciamis melintasi 17 negara kemungkinan akan kembali dipanggul. Kali ini, Viko menargetkan rute yang lebih panjang.














