CIAMIS,Kondusif.com,- Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus mengatakan tingginya kasus tuberkulosis (TB) di Indonesia masih berkaitan dengan lemahnya pencegahan terhadap orang yang telah melakukan kontak erat dengan pasien.
Menurut Benjamin, pemerintah selama ini telah meningkatkan penemuan dan pengobatan pasien TB.
Namun, upaya tersebut perlu diikuti dengan pemeriksaan dan pemberian terapi pencegahan kepada orang yang berisiko tertular.
“Kalau sekarang yang diobati kan lebih banyak yang sakit. Yang tertular masih banyak yang belum diperiksa,” kata Benjamin seusai menghadiri kegiatan monitoring dan tracking TB terintegrasi Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kabupaten Ciamis, Senin (21/9/2026).
Benjamin menjelaskan TB merupakan penyakit menular.
Karena itu, penanganannya tidak cukup hanya dengan mengobati orang yang sudah terdiagnosis.
Orang yang tinggal serumah atau memiliki kontak erat dengan pasien TB perlu diperiksa.
Pemeriksaan tersebut dapat dilakukan melalui CKG dengan dukungan pemeriksaan X-ray.
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan seseorang belum sakit TB tetapi memenuhi kriteria sebagai kontak yang berisiko, pemerintah dapat memberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).
Sementara mereka yang terdiagnosis TB akan mendapatkan pengobatan.
Penemuan Kasus Meningkat
Benjamin mengatakan penanganan TB di Indonesia menunjukkan peningkatan dari sisi penemuan kasus.
Pada 2020, pemerintah memperkirakan terdapat sekitar 824.000 orang yang sakit TB.
Saat itu, kasus yang berhasil ditemukan baru sekitar 48 persen.
Sementara pada tahun lalu, estimasi jumlah kasus meningkat menjadi sekitar 1,09 juta.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 867.000 kasus telah ditemukan atau sekitar 80 persen.
“Dari 48 naik ke 80 persen. Jadi sebetulnya Puskesmas sudah kerja bagus,” ujar Benjamin.
Pemerintah kemudian menargetkan angka penemuan kasus tersebut kembali meningkat menjadi 90 persen.














