banner 720x220

Dari Papua ke Ciamis, Muhammad Ali Terpikat Budaya Sunda hingga Dirikan Yayasan

Muhammad Ali Fauzi pria asal Manokwari, Papua yang tertarik budaya dan sejarah Sunda. (Dok, foto. Fauza/kondusif.com)
Muhammad Ali Fauzi pria asal Manokwari, Papua yang tertarik budaya dan sejarah Sunda. (Dok, foto. Fauza/kondusif.com)

Ciamis,Kondusif.com,- Muhammad Ali Fauzi tidak sekadar datang dari Papua ke Ciamis untuk menghadiri peringatan Gong Perdamaian Dunia. Sejak datang ke Tatar Galuh pada 2014, pria asal Manokwari, Papua, itu justru menemukan ketertarikan lain: mempelajari sejarah dan budaya Sunda.

Ketertarikan tersebut perlahan berkembang. Ali tidak hanya mencoba menggunakan bahasa Sunda, tetapi juga mempelajari sejarah Pasundan.

Ia bahkan membangun Yayasan Sunda Papua dan menciptakan sejumlah lagu Sunda.

Ali kembali hadir dalam kegiatan Milangkala ke-17 Gong Perdamaian Dunia di pelataran Gong Perdamaian Dunia, Situs Bojong Galuh Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Rabu (9/9/2026).

Di sela kegiatan, Ali bercerita tentang alasan yang membuatnya tertarik mempelajari budaya Sunda.

Baginya, ada sesuatu yang menarik dari cara sejarah Sunda merekam perjalanan para leluhur.

“Bagus, bahasa Sunda, sejarah Sunda itu bagus,” kata Ali seusai kegiatan.

Menurut Ali, salah satu hal yang membuatnya tertarik ialah jejak asal-usul dalam sejarah Sunda yang menurutnya dapat ditelusuri dengan lebih jelas.

Ia melihat hubungan antargenerasi dan keberadaan karuhun atau leluhur menjadi bagian penting dalam memahami sejarah masyarakat Sunda.

“Kalau Sunda kan sudah tahu, asal-usulnya sudah tahu, dari sini, dari sini, dari sini. Karuhun ini, karuhun ini, karuhun ini,” ujarnya.

Pandangan itu kemudian membuat Ali semakin tertarik untuk belajar.

Ia membandingkannya dengan pemahamannya mengenai asal-usul masyarakat di daerahnya.

“Kalau di daerah saya kan terpila-pila, kita nggak tahu dari mana asalnya, dari mana,” tuturnya.

Ketertarikan yang Berlanjut

Ali tidak berhenti pada rasa penasaran. Setelah mengenal sejarah Pasundan, ia mulai mempelajari bahasa Sunda.

Ia bahkan belajar bahasa Sunda di Cirebon. Dari proses tersebut, Ali mengaku mampu mengenal sejumlah kosakata dan ungkapan Sunda yang kemudian ia gunakan dalam percakapan.

Saat diminta berbicara menggunakan bahasa Sunda, Ali pun langsung mencoba.

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *