banner 720x220

Empat Dekade Yayasan Borosngora dan Ikhtiar Menjaga Warisan Leluhur Panjalu

Keterangan foto: Ketua Panitia Nyangku 2026 sekaligus mewakili Yayasan Borosngora, Prof. Dr. H. Djohan Rochanda Wiradinata. (Dok, foto. Fauza Khodir/Kondusif.com)
Keterangan foto: Ketua Panitia Nyangku 2026 sekaligus mewakili Yayasan Borosngora, Prof. Dr. H. Djohan Rochanda Wiradinata. (Dok, foto. Fauza Khodir/Kondusif.com)

CIAMIS,Kondusif.com,- Tradisi Nyangku kembali digelar di Panjalu, Kabupaten Ciamis, Senin, 7 September 2026. Di balik prosesi tahunan tersebut, ada upaya panjang untuk menjaga warisan budaya dan sejarah leluhur Panjalu yang telah dilakukan Yayasan Borosngora selama lebih dari empat dekade.

 

Yayasan Borosngora berdiri pada 9 Agustus 1983. Hingga 2026, yayasan tersebut telah berusia 43 tahun. Salah satu misi yang diemban yayasan adalah menjaga, memelihara, merawat, dan ngamumule warisan leluhur dalam bentuk budaya, cagar budaya, serta nilai-nilai kearifan lokal yang berkembang di Panjalu.

 

Ketua Panitia Nyangku 2026 sekaligus mewakili Yayasan Borosngora, Prof. Dr. H. Djohan Rochanda Wiradinata, menyampaikan hal tersebut dalam sambutannya pada rangkaian Tradisi Nyangku 2026.

 

Menurut Djohan, Nyangku menjadi salah satu ruang untuk mengenang dan menghormati jasa serta peninggalan Prabu Borosngora. Dalam sejarah Panjalu, Prabu Borosngora dikenal sebagai tokoh yang menyampaikan dan menyebarkan ajaran Islam kepada rakyat serta keturunannya.

 

“Acara Nyangku dimaksudkan untuk mengenang dan menghormati, bukan menyembah, jasa dan peninggalan Prabu Borosngora,” kata Djohan.

 

Karena itu, Yayasan Borosngora tidak memandang Nyangku hanya sebagai sebuah ritual tahunan. Tradisi tersebut juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan warisan budaya dan nilai-nilai yang diwariskan para leluhur kepada masyarakat Panjalu.

 

Pelaksanaan Nyangku 2026 mengusung tema “Melalui Nyangku dan Festival Budaya Panjalu Kita Tingkatkan Pendalaman Nilai-Nilai Budaya dan Keislaman dalam Menelusuri Jejak Kebaikan Para Karuhun.”

 

Tema tersebut kemudian diterjemahkan melalui rangkaian kegiatan yang menghubungkan sejarah, budaya, dan nilai keislaman masyarakat Panjalu.

 

Sejak pagi, warga dari berbagai daerah memadati kawasan Pasanggrahan, Desa Panjalu. Sementara itu, sejumlah benda pusaka peninggalan Kerajaan Panjalu dikeluarkan dari Bumi Alit, tempat benda-benda bersejarah tersebut disimpan.

 

Rombongan kemudian membawa pusaka menuju kawasan Situ Lengkong. Dengan menggunakan perahu, pusaka dibawa menyeberang menuju Nusa Gede, pulau yang berada di tengah Situ Lengkong Panjalu.

 

Di Nusa Gede, rombongan melakukan ziarah ke makam Prabu Hariang Kencana. Setelah itu, mereka melaksanakan tawasulan sebelum kembali membawa pusaka menuju kawasan Pasanggrahan.

 

Rangkaian tersebut kemudian berlanjut dengan prosesi penjamasan atau Ngaberesihan Pusaka. Pada Nyangku 2026, prosesi pencucian pusaka dilaksanakan di Pasanggrahan. Sebelumnya, prosesi tersebut biasa dilakukan di Alun-alun Panjalu atau Taman Borosngora.

 

Setelah prosesi utama selesai, pusaka kembali dibawa menuju Bumi Alit dalam rangkaian Ngabrakeun.

 

Menjaga Nilai yang Diwariskan Leluhur

 

Selama lebih dari empat dekade, Yayasan Borosngora juga menempatkan nilai-nilai kearifan lokal sebagai bagian dari warisan yang perlu dijaga.

 

Djohan mengatakan masyarakat Panjalu menerima berbagai papagon, ajaran, dan falsafah kepanjaluan melalui tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

 

Di antara falsafah tersebut ialah “Mangan karena halal, pake karena suci, ucap lampah sabendrek.”

 

Nilai-nilai itu berkaitan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, mulai dari menjaga kejujuran, menghargai sesama, mempererat silaturahmi, menjauhi sifat tercela hingga memenuhi kebutuhan hidup dengan rezeki yang halal.

 

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *