banner 720x220

Bukan Sekadar Cuci Pusaka, Ini Pesan Moral di Balik Tradisi Nyangku 2026 Panjalu

Gelaran Tradisi Nyangku Panjalu 2026. (Dok, foto. Fauza Khodir/Kondusif.com)
Gelaran Tradisi Nyangku Panjalu 2026. (Dok, foto. Fauza Khodir/Kondusif.com)

CIAMIS,Kondusif.com,- Warga dari berbagai daerah memadati kawasan Pasanggrahan, Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Senin, 7 September 2026. Mereka mengikuti Tradisi Nyangku 2026, ritual adat yang digelar setiap bulan Rabiul Awal.

Tahun ini, Nyangku mengusung tema “Melalui Nyangku dan Festival Budaya Panjalu Kita Tingkatkan Pendalaman Nilai-Nilai Budaya dan Keislaman dalam Menelusuri Jejak Kebaikan Para Karuhun.”

Tradisi tersebut menjadi salah satu rangkaian penting bagi masyarakat Panjalu untuk mengenang sekaligus merawat peninggalan sejarah leluhur.

Gelaran Tradisi Nyangku Panjalu 2026. (Dok, foto. Fauza Khodir/Kondusif.com)
Gelaran Tradisi Nyangku Panjalu 2026. (Dok, foto. Fauza Khodir/Kondusif.com)

Pelaksanaannya juga berlangsung bersamaan dengan Festival Budaya Panjalu dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Sejak pagi, warga berdatangan ke kawasan Pasanggrahan.

Sementara itu, sejumlah benda pusaka peninggalan Kerajaan Panjalu dikeluarkan dari Bumi Alit, tempat benda-benda bersejarah tersebut disimpan.

Rombongan kemudian membawa pusaka menuju kawasan Situ Lengkong Panjalu.

Mereka menyeberang menggunakan perahu menuju Nusa Gede, pulau yang berada di tengah situ.

Setibanya di Nusa Gede, rombongan melaksanakan ziarah ke makam Prabu Hariang Kencana.

Gelaran Tradisi Nyangku Panjalu 2026. (Dok, foto. Fauza Khodir/Kondusif.com)
Gelaran Tradisi Nyangku Panjalu 2026. (Dok, foto. Fauza Khodir/Kondusif.com)

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan tawasulan sebelum pusaka dibawa kembali menggunakan perahu menuju kawasan Pasanggrahan.

Di Pasanggrahan, rangkaian utama Nyangku dilanjutkan dengan prosesi penjamasan atau Ngaberesihan Pusaka.

Pusaka peninggalan Prabu Borosngora, pedang dan pisau pendek atau cis yang dikatakan sebagai cinderamata dari Sayidina Ali juga ikut dijamas.

Pada pelaksanaan tahun ini, prosesi pencucian benda pusaka digelar di Pasanggrahan.

Sebelumnya, prosesi tersebut biasa berlangsung di Alun-alun Panjalu atau Taman Borosngora.

Puncak kegiatan ditandai dengan prosesi Gelar Pusaka atau Ngaberesihan Pusaka. Prosesi tersebut berlangsung dengan iringan lantunan selawat.

Setelah seluruh rangkaian selesai, pusaka kembali dibawa menuju Bumi Alit melalui prosesi Ngabrakeun.

Yayasan Borosngora: Nyangku untuk Merawat Warisan Leluhur

Ketua Panitia Nyangku 2026 yang juga mewakili Yayasan Borosngora, Prof. Dr. H. Djohan Rochanda Wiradinata, mengatakan Yayasan Borosngora memiliki misi menjaga dan merawat warisan leluhur, termasuk budaya, cagar budaya, serta nilai-nilai kearifan lokal yang berkembang di Panjalu.

Menurut Djohan, Yayasan Borosngora berdiri pada 9 Agustus 1983.

Prof. Dr. H. Djohan Rochanda Wiradinata
Prof. Dr. H. Djohan Rochanda Wiradinata

Hingga 2026, yayasan tersebut telah menjalankan peran selama 43 tahun.

Ia mengatakan Nyangku tidak dimaksudkan untuk menyembah leluhur.

Tradisi itu, kata dia, menjadi sarana mengenang dan menghormati jasa serta peninggalan Prabu Borosngora, yang dalam sejarah Panjalu dikenal sebagai raja yang menyebarkan ajaran Islam kepada rakyat dan keturunannya.

“Acara Nyangku dimaksudkan untuk mengenang dan menghormati, bukan menyembah, jasa dan peninggalan Prabu Borosngora,” kata Djohan dalam sambutannya.

Selain itu, ia menyebut Nyangku menjadi ruang silaturahmi bagi keturunan Panjalu, baik yang tinggal di daerah maupun yang berada di perantauan.

Menurut dia, masyarakat Panjalu mewarisi berbagai papagon, ajaran, dan falsafah kepanjaluan yang diturunkan melalui tradisi dan tuturan.

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *