banner 720x220
News  

Karangan Bunga Satir Warnai Aksi Mahasiswa di DPRD Ciamis

Karangan bunga bernada satir saat aksi Mahasiswa yang tergabung dalam aliansi Cipayung plus dan Aliansi BEM Ciamis di Gedung DPRD Ciamis. (Dok, foto. Kondusif.com).
Karangan bunga bernada satir saat aksi Mahasiswa yang tergabung dalam aliansi Cipayung plus dan Aliansi BEM Ciamis di Gedung DPRD Ciamis. (Dok, foto. Kondusif.com).

CIAMIS,Kondusif.com, Sebuah karangan bunga bernada satir mencuri perhatian dalam aksi unjuk rasa yang digelar Aliansi Cipayung Plus dan Aliansi BEM Ciamis di depan Gedung DPRD Kabupaten Ciamis, Senin (22/6/2026).

Di tengah deretan spanduk dan poster tuntutan, mahasiswa membawa karangan bunga bertuliskan, “Selamat dan sukses atas kegagalan menjaga marwah demokrasi dan kepercayaan rakyat.”

Karangan bunga itu menjadi simbol kritik yang mereka tujukan kepada pemerintah atas berbagai kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat.

Kehadiran karangan bunga tersebut bahkan lebih dulu menyita perhatian sebelum massa aksi menyampaikan tuntutan mereka melalui mimbar bebas.

Aksi mahasiswa bermula dari titik kumpul di halaman Polsek Ciamis.

Meski jadwal aksi sempat mengalami penundaan, semangat para peserta tidak surut.

Hingga sekitar pukul 14.00 WIB, mahasiswa dari berbagai organisasi dan kampus terus berdatangan memadati lokasi.

Selanjutnya, sekitar pukul 14.15 WIB, massa bergerak menuju Gedung DPRD Kabupaten Ciamis dengan membawa spanduk, poster, dan karangan bunga satir tersebut.

Sepanjang perjalanan, mereka terus menyerukan berbagai tuntutan yang berkaitan dengan kondisi ekonomi, pendidikan, hingga demokrasi.

Setibanya di depan Gedung DPRD, mahasiswa langsung menggelar mimbar bebas.

Secara bergantian, para orator menyampaikan kritik terhadap sejumlah program pemerintah yang dinilai gagal menjawab persoalan rakyat.

“Hentikan program yang hanya menyengsarakan rakyat. Rupiah melemah, harga-harga naik, ini membuktikan pejabat tidak becus mengurus negeri ini,” teriak salah seorang orator yang disambut sorakan massa.

Tak lama kemudian, orator lainnya kembali menyampaikan seruan yang lebih tegas.

“Kita datang hari ini bukan untuk berbicara dan berdiskusi. Satu kata, lawan!” serunya.

Seruan tersebut langsung dijawab peserta aksi dengan teriakan yang menggema di halaman gedung dewan.

Soroti Program Makan Bergizi Gratis

Selain menyoroti kondisi ekonomi nasional, mahasiswa juga menjadikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu fokus kritik mereka.

Dalam sejumlah orasi, mahasiswa menilai program tersebut perlu dievaluasi secara menyeluruh.

Mereka berpendapat pemerintah harus memastikan program yang dijalankan benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“MBG sebagai pemenuhan gizi malah dianggap menjadi program yang merusak generasi bangsa,” ujar salah seorang orator.

Mahasiswa menegaskan bahwa mereka tidak menolak upaya pemenuhan gizi bagi anak-anak.

Namun, mereka mempertanyakan prioritas pemerintah yang dinilai terlalu berfokus pada program tersebut di tengah berbagai persoalan pendidikan yang masih terjadi.

Menurut mereka, kualitas pendidikan, kesejahteraan guru, serta pemerataan sarana pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan pemerintah.

“Pendidikan bukan sekadar program pemerintah, tetapi amanat konstitusi. Kami menolak pemotongan anggaran pendidikan demi program yang belum jelas sistem dan efektivitasnya,” kata seorang orator perempuan.

Selain itu, mahasiswa juga menyinggung kondisi masyarakat yang dinilai semakin tertekan akibat naiknya harga kebutuhan pokok.

Mereka menggambarkan bagaimana pedagang pasar kesulitan mendapatkan pembeli karena daya beli masyarakat menurun.

Sementara itu, banyak ibu rumah tangga harus berpikir ulang saat berbelanja karena harga kebutuhan sehari-hari terus mengalami kenaikan.

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *