Oleh: Fauza Khodir
[featured]
Siang itu, tawa dan obrolan hangat sesekali pecah di Kantor Desa Ciherang, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis. Tak tampak suasana resmi yang kaku sebagaimana lazimnya sebuah pertemuan antara aparat dan masyarakat. Tidak ada jarak yang membentang di antara kursi-kursi yang tersusun sederhana.
Di ruangan itu, petani, tokoh masyarakat, perangkat desa, hingga aparat kepolisian duduk berdampingan.
Secangkir kopi dan aneka suguhan khas desa menjadi teman percakapan yang mengalir tanpa sekat.
Di tengah lingkaran warga itu, Kapolres Ciamis AKBP H. Hidayatullah memilih duduk sejajar dengan masyarakat.
Ia mendengar satu per satu aspirasi yang disampaikan warga. Sesekali ia menanggapi, sesekali pula melemparkan senyum yang mencairkan suasana.
Momen tersebut merupakan bagian dari program Ngobras (Ngobrol Asik Ngobrol Santai), sebuah forum dialog yang digagas Polres Ciamis untuk mendekatkan polisi dengan masyarakat sekaligus menyerap berbagai persoalan yang berkembang di lapangan.
Namun siang itu, pembicaraan tak hanya berkutat soal keamanan dan ketertiban masyarakat.
Ada isu lain yang mengemuka, yakni tentang sawah, hasil panen, dan masa depan ketahanan pangan.
Ketika Ketahanan Pangan Menjadi Urusan Bersama
Bagi sebagian besar warga Banjarsari, pertanian bukan sekadar pekerjaan.
Dari lahan-lahan yang mereka garap, kebutuhan keluarga dipenuhi dan harapan masa depan ditanam setiap musimnya.
Karena itulah, ketika pemerintah pusat menggulirkan program swasembada pangan nasional, tantangan tersebut ikut menjadi perhatian Polres Ciamis.
Melalui forum Ngobras, AKBP H. Hidayatullah menjelaskan bagaimana jajarannya berupaya mengambil peran nyata dalam mendukung program tersebut.
“Tujuannya, kita menerima aspirasi sekaligus memberikan sosialisasi kepada masyarakat dalam menjaga harkamtibmas di wilayah masing-masing,” ujar Hidayatullah.
Menurutnya, keamanan dan ketahanan pangan sejatinya memiliki hubungan yang erat.
Daerah yang masyarakatnya sejahtera akan memiliki stabilitas sosial yang lebih kuat.
Sebaliknya, sektor pertanian yang berkembang dapat menjadi fondasi penting bagi terciptanya keamanan wilayah.
Dari pemikiran itulah lahir sebuah langkah konkret yang kini tengah dijalankan Polres Ciamis.
Dari Ruang Dialog ke Hamparan Sawah
Sekitar puluhan kilometer dari Desa Ciherang, tepatnya di Desa Sindangkasih, Kecamatan Cikoneng, sebuah lahan seluas dua hektare menjadi laboratorium kecil bagi harapan besar.
Di lahan tersebut, Polres Ciamis bersama kelompok tani menjalankan proyek percontohan pertanian berbasis sistem tumpangsari.
Bukan tanpa alasan metode ini dipilih.
Di tengah ketidakpastian cuaca, naik-turunnya harga komoditas, serta tingginya biaya produksi pertanian, petani membutuhkan pola tanam yang mampu memberikan hasil lebih stabil.
“Kami menerapkan sistem tumpangsari dengan menanam empat jenis komoditas sekaligus dalam satu lahan, yaitu bawang merah, jahe gajah, cabai ori, dan jagung,” tutur Kapolres.
Melalui pola tersebut, petani tidak hanya bergantung pada satu jenis tanaman.
Ketika satu komoditas mengalami penurunan harga, komoditas lainnya masih dapat menjadi penopang pendapatan.














