Viko mengaku pernah bertemu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melalui undangan Wali Kota Şile, Istanbul.
Perjalanan itu juga membawanya berhadapan dengan sejumlah media asing.
Ia menyebut beberapa televisi dan media internasional sempat mewawancarainya.
Kesempatan tersebut ia manfaatkan untuk memperkenalkan Ciamis.
“Saya bisa memperkenalkan apa itu Ciamis dan ada apa di Ciamis,” katanya.
Menurut Viko, siaran langsung terakhir dalam perjalanannya bahkan ditonton sekitar 14 ribu orang.
Penontonnya berasal dari sejumlah negara yang ia lewati.
Ia juga berusaha menjaga pesan persaudaraan dalam setiap perjalanan.
Karena itu, Viko tidak ingin terlalu menonjolkan pengalaman buruk selama berada di negara lain.
“Setiap negara punya plus dan minus. Saya lebih mengambil sisi positifnya,” ujarnya.
Baginya, perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa niat baik dapat membuka jalan pertemuan dengan banyak orang.
“Intinya, niat kita baik, berjalan dengan baik, insyaallah hasilnya baik,” kata dia.
Menulis Al-Qur’an Selama Perjalanan
Selain berjalan kaki, Viko membawa satu proyek pribadi selama ekspedisi. Ia menulis ayat-ayat Al-Qur’an dalam setiap seri perjalanan.
Proyek tersebut akhirnya selesai ketika ekspedisinya mencapai garis akhir.
Karena itu, sejumlah pihak kini menawarkan agar pengalaman tersebut dituangkan menjadi buku.
Namun, Viko belum memastikan kapan buku itu akan terbit.
“Saya kemarin fokusnya lebih banyak menulis Al-Qur’an. Setiap seri saya menulis beberapa ayat dan alhamdulillah selesai saat finish,” ujarnya.
Viko juga belum berhenti bermimpi. Ia menyebut telah mendapat sejumlah tawaran dari berbagai negara untuk perjalanan berikutnya.
Namun, ia memilih tidak terburu-buru. Ia memperkirakan ekspedisi berikutnya baru berlangsung satu atau dua tahun mendatang.
Tujuannya pun berbeda. Kali ini ia ingin mengejar perjalanan menuju Masjid Al-Aqsa.
Viko mengaku sudah mulai menyusun jalur. Ia merencanakan perjalanan dari Yordania hingga berakhir di London, Inggris.
Dengan demikian, perjalanan pulang ke Rancah bukan menjadi akhir bagi Viko.
Justru, ekspedisi 17 negara itu bisa menjadi awal dari perjalanan berikutnya.
Bagi warga Ciamis, kisah Viko setidaknya membawa satu hal penting: sebuah perjalanan panjang bisa menjadi cara untuk memperkenalkan daerah asal ke dunia yang lebih luas.














