”Alhamdulillah, semua pihak mendukung. Kami bahkan mengundang Dinas Pariwisata karena kami ingin acara ini masuk dalam agenda tahunan (calender of event),” tambahnya.
Doa dan Makan Bareng
Nuansa khidmat terasa saat prosesi utama dimulai.
Masyarakat mengikuti rangkaian ritual tradisional mulai dari Syukur Waktu, Rajah Sasadu, hingga Tawasulan.
Doa-doa dipanjatkan khusus untuk para perancang jembatan, terutama para tokoh dari Sukapura Tasikmalaya dan Galuh Ciamis.
”Ini bentuk sujud syukur kami. Selama 133 tahun, rasanya belum pernah ada syukuran khusus untuk Cirahong. Melalui tawasulan, kita kirim doa untuk para penggagas jembatan ini,” tegas Asep.
Setelah ritual usai, suasana kembali cair dalam tradisi Kumpul Riung dan Botram Balakecrakan.
Warga dan seniman duduk melingkar menyantap hidangan bersama sebagai simbol kebersamaan.
Kemeriahan ini turut melibatkan Paguyuban Seniman Seniwati Kabupaten Tasikmalaya, kelompok seni Manggala, hingga Gajah Putih.
Acara berlangsung kondusif dengan pengawalan ketat dari Polsek Manonjaya, tokoh agama MUI, serta jajaran Satlinmas.














