Herdiat harus berangkat ke Bali pada Kamis siang untuk menghadiri agenda pemerintahan yang berkaitan dengan Kementerian Dalam Negeri.
“Sebetulnya saya pengen banget. Sudah diagendakan dari dulu. Tapi saya manusia yang merencanakan, Allah SWT yang menentukan,” ujarnya.
Herdiat menjelaskan agenda tersebut berkaitan dengan sejumlah urusan pemerintahan. Di antaranya tata kelola keuangan dan persoalan persampahan.
Selain itu, agenda tersebut juga berkaitan dengan pemberian penghargaan bagi pemerintah daerah.
Menurut Herdiat, kehadiran kepala daerah penting karena penghargaan tersebut berpotensi disertai dukungan anggaran.
“Kalau bupati atau wali kota tidak datang, kebetulan dapat penghargaan, bisa digeser ke bupati atau wali kota yang lain,” katanya.
Herdiat mengaku berharap Ciamis memperoleh dukungan anggaran dari pemerintah pusat.
Karena itu, ia memilih memenuhi agenda tersebut meski harus melewatkan puncak Merlawu.
“Uang Rp1-2 miliar zaman sekarang lagi susah. Kalau kebetulan dapat terus tidak datang, bisa digeser ke bupati atau wali kota yang lain,” ujarnya.
Perwakilan Pemkab Hadiri Merlawu
Herdiat kemudian meminta maaf kepada para sepuh dan masyarakat Wanasigra karena tidak dapat hadir langsung.
Meski begitu, ia memastikan Pemkab Ciamis tetap mengirimkan perwakilan untuk menghadiri puncak Merlawu.
“Maaf banget kepada para sepuh dan warga semuanya. Suratnya tidak bisa ditolak. Nanti hari Jumat dihadiri Pak Asisten atau Pak Kadis,” kata Herdiat.
Herdiat juga menegaskan pentingnya menjaga Merlawu sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat Wanasigra.
Ia menyebut tradisi tersebut telah tercatat sebagai warisan budaya takbenda di kementerian terkait selama sekitar empat tahun.
Karena itu, Herdiat berharap masyarakat terus merawat tradisi tersebut agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.















Respon (1)