banner 720x220
News  

Reses di Pamalayan, Asep Rahmat Serap Aspirasi untuk Dibawa ke DPRD

Asep Rahmat, anggota DPRD Ciamis dari Fraksi PAN, menggelar Reses II Tahun Sidang 2026 di Aula Desa Pamalayan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Kamis (27/8/2026). (Dok, foto. Kondusif.com)
Asep Rahmat, anggota DPRD Ciamis dari Fraksi PAN, menggelar Reses II Tahun Sidang 2026 di Aula Desa Pamalayan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Kamis (27/8/2026). (Dok, foto. Kondusif.com)

Apabila kebutuhan dapur MBG tersedia di Ciamis, menurutnya, bahan pangan tersebut sebisa mungkin dipasok dari masyarakat lokal.

Ia mencontohkan kebutuhan sayuran. Menurut Asep, tidak semestinya komoditas yang tersedia di Ciamis justru didatangkan dari daerah lain.

“Untuk memenuhi kebutuhan pokok yang bisa disuplai masyarakat sekitar, jangan mengambil dari luar daerah seperti Banjar dan lainnya hanya untuk mencari keuntungan lebih,” katanya.

Asep juga melihat Koperasi Desa Merah Putih dapat mengambil peran dalam menghubungkan hasil produksi masyarakat dengan kebutuhan dapur MBG.

Dengan pola tersebut, program MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi anak-anak.

Pada saat yang sama, perputaran ekonomi juga dapat dirasakan petani dan pelaku usaha di desa.

“Bagaimanapun program ini tujuannya sangat baik. Tujuan baik dengan cara baik sehingga hasilnya baik. Anak jadi terpenuhi gizinya, mengurangi stunting. Kita wajib dukung itu,” ujarnya.

Tak Hanya Pertanian, Pendidikan Ikut Disorot

Forum reses juga menjadi tempat warga menyampaikan persoalan yang berkaitan dengan pendidikan dan penggunaan gawai oleh anak.

Asep menyoroti persoalan bullying di lingkungan pendidikan.

Menurutnya, tindakan perundungan tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa karena dapat berdampak terhadap anak.

“Bullying pendidikan ini adalah suatu hal yang sangat memprihatinkan buat kita. Sebagai orang tua, sebagai masyarakat, ini tidak boleh terjadi di mana pun, termasuk yang ada di Pamalayan,” katanya.

Selain itu, penggunaan telepon seluler dan media sosial oleh anak juga menjadi perhatian.

Asep menilai pengawasan terhadap penggunaan gadget tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah.

Orang tua, masyarakat, dan pendidik harus mengambil peran bersama.

Tujuannya bukan sekadar menjauhkan anak dari teknologi, melainkan memastikan mereka mampu menggunakannya secara bijak.

“Ini urusan bersama. Bukan hanya urusannya masyarakat, bukan hanya urusannya warga, bukan hanya urusannya pendidik, tapi urusan kita semua bagaimana mencari solusi bahwa anak-anak itu tidak lagi menjadi ketergantungan terhadap gadget,” tuturnya.

Asep mengatakan persoalan tersebut akan didiskusikan lebih lanjut untuk mencari instrumen atau aturan yang dapat mendorong perubahan.

“Nanti akan didiskusikan lebih lanjut bagaimana kita membuat instrumen, karena dengan instrumen aturan yang akan membawa perubahan ini, nanti akan dibawa ke tingkat yang selanjutnya,” katanya.

Melalui reses tersebut, Asep menegaskan pentingnya menjadikan aspirasi masyarakat sebagai bahan pembahasan di DPRD.

Baginya, pertemuan dengan warga bukan sekadar agenda formal, tetapi kesempatan untuk mengetahui langsung persoalan di lapangan.

“Kita sukseskan, bukan hanya jadi penonton,” ujar Asep.

banner 720x220

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *