Langkah pertama yang ia tekankan adalah aspek spiritualitas. Ia mengajak para lulusan untuk kembali mengenali jati diri mereka sebagai mahluk ciptaan Tuhan.
”Dalam memulai aktivitas pada situasi sulit seperti ini, kembalilah kepada diri kita itu siapa. Kita lahir bukan atas kehendak kita, tapi atas kehendak Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, awalilah setiap langkah Anda sebagai alumni dengan basmalah, atau dengan menyebut nama Tuhan bagi yang beragama lain,” tegasnya dengan penuh penekanan.
Ciptakan Lapangan Kerja Lewat Kolaborasi Lintas Disiplin
Memasuki poin kedua, Agun meminta para alumni untuk senantiasa mengedepankan sikap saling menghargai.
Di tengah dinamika zaman yang sering kali memicu polarisasi pro dan kontra, ia berharap lulusan Unigal mampu menghormati setiap perbedaan ide, gagasan, maupun pemikiran.
Selanjutnya, pada poin ketiga, Agun memberikan solusi konkret terkait ancaman pengangguran.
Lulusan perguruan tinggi masa kini tidak boleh lagi hanya pasif mencari lowongan pekerjaan, melainkan harus berani mendobrak keterbatasan dengan menciptakan lapangan kerja baru secara mandiri.
Kuncinya, lanjut Agun, terletak pada kekuatan persatuan dan kolaborasi.
Lulusan dari latar belakang keilmuan yang berbeda harus bersinergi membangun unit usaha baru, terutama dengan menyasar sektor ekonomi kerakyatan dan UMKM yang ada di pedesaan.
”Orang teknik bertemu orang ekonomi, masing-masing alumni bisa berkolaborasi! Lalu apa yang dikerjakan? Musyawarahkan bersama. Mungkin ada karya-karya di pedesaan atau lapangan pekerjaan yang bisa dibagikan dan dikolaborasikan melalui unit usaha atau UMKM,” jelas Agun memberikan ilustrasi nyata.
Di akhir wawancara, ia optimistis jika para lulusan memegang teguh komitmen tersebut mengawali langkah dengan doa, saling menghargai, serta kompak berkolaborasi maka alumni Universitas Galuh akan menjelma menjadi sosok yang tepercaya.
Langkah ini sekaligus mempertegas posisi Unigal sebagai kampus kebanggaan seluruh masyarakat Tatar Galuh Ciamis.














