Menurutnya, dunia kedokteran kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Selain perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, organisasi profesi juga dihadapkan pada perubahan regulasi, termasuk dampak Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.
Ia menjelaskan, sejumlah perubahan membuat organisasi profesi memiliki keterbatasan dalam menjalankan fungsi pembinaan dan pengawasan terhadap anggotanya.
Di sisi lain, perkembangan media sosial juga menjadi tantangan baru.
Menurutnya, kesalahan persepsi yang berkembang di ruang digital sering kali memicu munculnya tuntutan terhadap tenaga medis.
Karena itu, IDI Jawa Barat telah membentuk Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yang terdiri atas advokat dan dokter untuk memberikan pendampingan hukum kepada anggota ketika menghadapi persoalan hukum.
Selain itu, Luthfi juga menyoroti distribusi dokter di Jawa Barat yang dinilai belum merata.
Sebagian besar dokter masih terkonsentrasi di wilayah barat, sementara wilayah timur masih membutuhkan lebih banyak tenaga kesehatan, terutama dokter spesialis.
Ia juga mengingatkan seluruh dokter agar memahami perubahan sistem klasifikasi rumah sakit berbasis kompetensi sehingga kualitas pelayanan kesehatan dapat terus ditingkatkan.
Menurutnya, berbagai persoalan kesehatan seperti tingginya angka stunting, kasus tuberkulosis, hingga munculnya kembali penyakit campak harus dihadapi melalui kolaborasi lintas sektor.
“Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya,” katanya.
Bupati Herdiat Dorong Peningkatan Pelayanan Kesehatan
Bupati Ciamis Herdiat Sunarya mengaku bersyukur dapat menghadiri pelantikan kepengurusan IDI Cabang Ciamis.
Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pengurus lama atas dedikasi yang telah diberikan selama mengabdi kepada masyarakat.
Menurut Herdiat, profesi dokter merupakan profesi yang sangat mulia karena bersentuhan langsung dengan keselamatan masyarakat.
Ia menegaskan pembangunan sektor kesehatan membutuhkan semangat guyub dan kolaborasi.
Menurutnya, sehebat apa pun seorang dokter tidak akan mampu bekerja sendiri tanpa dukungan berbagai pihak.
Herdiat juga menyoroti masih terbatasnya jumlah dokter spesialis di Kabupaten Ciamis.
Akibatnya, masih banyak pasien yang harus dirujuk ke daerah lain untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
“Kami ingin pelayanan kesehatan di Ciamis terus meningkat. Tidak masalah rumah sakit kami kelas C atau kelas D, tetapi pelayanan yang diberikan harus mampu setara dengan rumah sakit kelas yang lebih tinggi,” ujarnya.
Selain itu, ia menyoroti masih tingginya angka stunting di Kabupaten Ciamis yang memerlukan penanganan terukur berbasis data yang akurat.
Menutup sambutannya, Herdiat mengucapkan selamat kepada dr. Rizali Sofiyan beserta seluruh pengurus IDI Cabang Ciamis periode 2026-2029.
Ia berharap kepengurusan baru tidak hanya menjalankan tugas secara seremonial, tetapi mampu menghadirkan program nyata bagi masyarakat.
“Layani masyarakat tanpa membedakan suku, agama, kaya maupun miskin. Dengan semangat guyub dan kolaborasi, saya yakin pelayanan kesehatan di Kabupaten Ciamis akan semakin baik,” pungkasnya.














