Lewat regulasi ini, negara mencoba hadir demi menciptakan ruang digital yang aman dan sehat bagi anak-anak Indonesia.
Tak hanya bertempur di dunia maya, pemerintah juga menyelipkan sejumlah program strategis di dunia nyata untuk memperkuat akar rumput.
Berbagai program mulai bergulir, antara lain:
- Program Makan Bergizi Gratis untuk perbaikan gizi generasi masa depan.
- Pembangunan Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda demi pemerataan kualitas pendidikan.
- Layanan kesehatan gratis yang menjangkau masyarakat bawah.
- Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai mesin penggerak ekonomi di perdesaan.
Pesan dari Ciamis: Solidaritas dan Literasi
Menutup pembacaan pidato tersebut, Herdiat Sunarya kemudian memalingkan pandangan kepada seluruh peserta upacara.
Ia mengajak segenap elemen masyarakat Tatar Galuh untuk mengemas semangat Harkitnas menjadi aksi nyata sehari-hari.
Menurut Herdiat, benteng pertahanan terbaik daerah saat ini adalah persatuan yang kokoh dan kecerdasan dalam memilah informasi.
“Mari kita jadikan momentum ini untuk memperkuat solidaritas sosial, meningkatkan literasi digital, dan memastikan bahwa setiap langkah pembangunan yang diambil senantiasa berorientasi pada kemajuan bersama,” tegasnya, menutup amanat menteri.
Ketika barisan upacara akhirnya dibubarkan, pesan dari halaman pendopo itu tetap menggantung di udara.
Harkitnas ke-118 di Ciamis melempar pengingat penting: bahwa kebangkitan bangsa hari ini tidak lagi diukur dari tajamnya bambu runcing, melainkan dari tajamnya literasi dan keteguhan menjaga generasi muda menuju Indonesia yang mandiri.














